Hijriah

Selasa, 02 September 2014

BEGINILAH CARAKU MENJAGA HATI Bag.2

Waktu berjalan dengan caraku menjaga hati itu, membuat hidupku lebih tersenyum lantaran kegundahanku itu mengurang seiring usahaku dalam meyakinkan hatiku untuk tidak salah dalam pengelolaannya, melalui istikharah-istikharahku kepada Rabb.

Semua itu aku lakukan untuk mempertahankan hatiku kepada Pemiliknya karena aku berharap agar Pemiliknya tidak tersingkir dari singgasananya lantaran pengelolaan yang salah.

Namun, cobaan belum begitu saja berakhir hingga pada suatu ketika Allah sibakkan aku bertemu dengan seorang muslimah yang begitu mengagumkan.
Dia berbeda, tidak seperti muslimah yang pernah aku temui pada biasanya, lantaran keberadaannya entah mengapa hampir menyerupai perasaanku terhadap sosok yang akan aku nikahi itu.
Kemungkinan ini jauh dari apa yang aku bayangkan, karena hal ini sepertinya akan lebih mengancam pertahananku dalam mempertahankan hatiku untuk Rabb.
Apalagi aku meyadari bahwa wanita merupakan godaan terbesar seorang laki-laki.
Terkadang fikirankupun terbuai dengan dirinya di saat-saat aku kurang siaga dalam memelihara hati ini untukNya.
Hingga akupun kehilangan definisi dalam mempertahankan hatiku untukNya.
Mungkin karena terpesonanya aku dengan keserupaannya dengan keyakinanku terhadap sosok yang akan ku nikahi itu, membuatku terlupa untuk mengetahui jawabannya dengan istikharah-istikharahku dalam usahaku meyakinkan diriku atasnya.
Dan tanpa ku sadari…
Hal-hal Rabbani ((Ketuhanan (maksudny a: Keislaman)) yang aku kenali seolah menjadi nuansa yang datar di hati, awalnya ku anggap hal itu sebagai futur (menurunnya iman) yang biasa, namun aku mendapati bahwa nuansa khas itu belum kunjung tiba dalam waktu yang cukup lama dan ketika aku telah lelah menunggu kedatangannya kembali.

Hal-hal yang dahulunya begitu peka di relung-relung hati ini seolah berkurang penginderaannya, hingga akupun menyadari bahwa hal ini terjadi karena sikapku yang salah dalam pengelolaan hati terhadap seorang muslimah yang menyerupai sosok yang akan aku nikahi itu.
Ketika aku tersadar , hal itu dapat membuatku takut ketika aku berfikir jikalau Allah mem-futurkanku dengan keadaan yang demikian.
Jika demikian aku harus melakukan tindakan pencegahan agar perbuatanku tidak menjadikan keburukan bagiku.
Sesekali ku coba bertanya dalam hati, bahwa jika memang dirinya adalah orangnya maka hal itu seharusnya tidak membuatku jauh dari Allah, lantaran dasarku menambatkan hati kepadanya adalah karena Cintaku Kepada Rabb.
Hingga akhirnya aku meyadari dari gerak hatiku bahwa bukan muslimah itulah orangnya.
Hingga keadaanpun mampu menegurku, sehingga dapat membantu menyadarkanku dari kesalahan yang telah aku perbuat, meskipun pesonaku terhadapnya belum pulih.Pada suatu malam, akhirnya ku coba diri ini memohon ampun kepada Allah atas apa yang telah aku perbuat, dan memohon pulihnya karunia yang sekiranya enggan terasa indah dihatiku ketika itu.
Dan akupun berharap kepadaNya agar hal yang seperti itu tidak terjadi kembali, lantaran aku tidak mau lagi bermain-main dengan hati ini lantaran aku sadari bahwa hati ini milikNya dan hanya kepada dan karenaNyalah seharusnya ku tambatkan.

Dan aku berharap agar Allah menguatkan firasatku kepada sosok yang telah aku yakini yang terlahir dari istikharah-istikharahku terhadap siapa saja yang pernah mempesonakanku.

Hingga akupun memberanikah diri untuk berdoa:
“Yaa Allah, Sucikanlah hatiku hanya untuk siapa yang pantas menempatinya dengan keridhaanMu.
Cukup dia sajalah yang aku cintai karena aku tidak menginginkan keburukan katika aku berbuat salah terhadap hatiku."
“Ya Allah, aku tahu bahwa Engkau Maha Berkehendak dan akupun tidak meragukan KekuasaanMu Karena Engkau adalah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka aku memohon kepadaMu agar Engkau memampukan diriku untuk dapat mengetahui wajah dari siapa yang akan aku nikahi nanti walaupun hanya sekejap saja agar dengan itu aku mampu membedakan dirinya dengan yang bukan dirinya, agar aku dapat cenderung menjauhkan hati ini dari kesia-siaan. Aku yakin bahwa Engkau mampu menjadikannya, dan aku yakin atas hal yang terbaik bagiku dari segala keinginanku, ku lakukan ini karena aku telah merindukannya dan mensyukurinya lantaran Engkau takdirkan aku kepadaNya.
Dan maafkan aku jika aku tersalah. Ku mohon atas KuasaMu, ya Rabb.
Dan pertemukanlah aku dengannya ketika aku hendak menikahinya agar aku tidak berlama-lama menjadikan hati ini terlena dengannya walaupun aku tahu bahwa nantinya dia akan aku nikahi.
Jagalah hatiku untukMu Rabb, karena aku ingin selalu MencintaiMu lantaran Engkaulah Dzat yang pantas aku Cintai sepenuh hatiku.
Allahuma Amiin”

Pintaku penuh harap dan lirih…

Dengan harap-harap cemas ku sadari doa itu lantaran aku takut jika aku telah berbuat kesalahan.
Entah hal apa yang mampu membuatku memberanikan diri untuk berdoa seperti itu, mungkin saja karena rasa penasaranku yang telah tertanam terhadap sosok yang kuyakini itu.
Namun perasaan yakin bahwa aku tidak melakukan kesalahan membuatku sedikit lega.
Setelah itupun aku tertidur, mungkin karena aku terlelah…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar