Hijriah

Senin, 22 September 2014

SEBUTIR EMBUN

Suara gemericik air terdengar lirih....
Menetes...
Mengisyaratkan....

Pagi yang indah seru sekalian alam.
Di bumi ini.....
Di bawah ufuk garis katulistiwa....
Di antara hamparan luas samudra yg indah.....
Dan diantara indahnya hidayah di bawah naungan pemilik alam semesta....

Disini....
Di indahnya negriku ini, betapa banyak jutaan manusia lalai akan kewajibannya. Kewajiban terhadap Robbnya, kewajiban dimana itu adalah hak Alloh yang harus di berikan....

Di sini....
Di keruhnya bangsaku ini, tak ubahnya sebuah pertanda, pertanda akan hilangnya hidayah yang telah diberikan pemilik semesta....

Andaikata dihitung nikmat mana yg telah diberikan Alloh kepada kita, takkan mampu pena ini menuliskan segala kemurahannya.
Tak kan mampu tinta seluas lautan ini menuliskannya....

Inilah tanda....
Tanda dimana dihapuskannya nikmat dalam diri kita....
Nikmat hidayah....

Betapa banyak manusia manusia yang saat ini......
Pagi ini.....
Dia beriman, lantas sore harinya dia berpaling....

Betapa banyak pribadi pribadi hari ini....
Saat ini.....
Dia berpaling dan malam harinya dia beriman....

Wahai manusia tanpa kita sadar kita telah tertipu. Tertipu terhadap dunia yang hina ini....
Di saat pagi tampak menunjukkan wajahnya....
Di saat pagi menunjukkan keindahannya...
Di saat itu pula sebutir embun mulai menetes kering....

Di saat hidayah hilang entah kemana....
Balikpapan, 28 Dhulqo'dah 1435 H

Tidak ada komentar:

Posting Komentar