Hijriah

Selasa, 02 September 2014

BEGINILAH CARAKU MENJAGA HATI Bag.3

Hatiku memang tak seputih salju atau sejerni embun.

Beberapa waktu kemudian, kehidupanku mulai berubah, seeolah aku telah memulai lembaran hidupku yang baru, hal-hal yang telah terjadi seolah telah tersapu oleh air mata pembersihan diri ketika malam itu, membuatku bersemangat untuk mensucikan hati ini kepada siapa yang patut menempatinya.
Perasaanku lebih tenang setelah aku memohon maaf kepadaNya sehingga menjadikan kegundahanku terkikis beserta kecemasan-kecemasan lainnya.
Namun, ada beberapa hal yang menurutku ajaib dari peristiwa yang aku alami sejak malam itu, entah mengapa dalam tidurku terkadang aku sering bermimpi didatangi oleh seseorang muslimah yang Insya Allah, shalehah dan baik kepribadiannya yang aku tidak pernah bertemu dengannya namun sepertinya aku mengenalinya, senyum, putih, pemalu, sosoknya menenangkan jiwa, membuat hatiku bergetar tentang kedatangannya.
Hingga akupun berkesimpulan bahwa inikah jawaban Allah atas permintaanku waktu itu?.
Aku tak mampu menjawabnya secara mutlak, namun keyakinanku dan gerak hatiku mampu meyakinkanku bahwa kedatangannya itu ada sangkut pautnya dengan keyakinanku kepada Allah akan terkabulnya doa yang pernah ku panjatkan kepada Allah ketika malam itu.
Dan hal ini sedikit terbukti ketika aku melakukan istikharah untuknya, perasaan tenang yang tidak aku temukan jika aku meng-istikharahkan yang lainnya. Masya Allah…

Walaupun sosoknya telah tersibakkan, namun Jika aku disuruh menggambarkan wajahnya maka aku tidak mampu, karena aku tidak bisa melihat jelas bagaimana wajahnya, namun sepertinya hanya hatiku-lah yang mampu mendeskripsikannya, hingga gambaran wajah itu mampu membawaku kepada ketenteraman dan ketenangan yang memuaskan hati.
Mungkin dengan ini, hatiku telah berfatwa lagi atas dirinya…

Namun, bukan hanya wajahnya saja yang Allah tunjukkan kepadaku, melainkan karakter-karakter khasnya yang diperkenalkan kepadaku agar dengan itu mampu membedakan membantuku dirinya dengan yang lainnya secara lebih tepat.

Masya Allah…

Sebelumnya aku mengira-ngira bahwa apa yang aku alami itu merupakan kebisaan fikiranku dalam berimajinasi, namun ketika ku telaah lagi, peristiwa itu dapat mengingatkanku kepada apa yang pernah Rasulullah sabdakan dalam sebuah hadist, meskipun hadist ini telah ditemukan olehku 5 tahun setelah kejadian itu.

“Rasulullah saw bersabda kepada Aisyah, “sebelum aku menikahimu, aku pernah melihatmu dua kali di dalam mimpi. aku melihat Malaikat membawa secarik kain yang terbuat dari sutra. kukatakan kepadanya, ‘Singkapkanlah.’ Malaikat itupun menyingkapnya. dan ternyata kain itu memuat gambarmu. 
lalu kukatakan,
“jika ini merupakan ketentuan Allah, maka dia pasti akan membuatnya terjadi. ‘Pada kesempatan lain aku kembali melihatnya datang membawa secarik kain yang terbuat dari sutra. Maka kukatakan kepadanya, ‘Singkaplah.’ Malaikat itupun menyingkapnya. dan ternyata kain itu memuat gambarmu.
lalu aku berkata, “jika ini merupakan ketentuan Allah, maka dia pasti akan membuatnya terjadi.
(HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Subhanallah, aku tidak percaya ini, namun aku tetap bertawakal kepada Allah jikalau aku mendapatkan kesalahan atas apa yang terjadi pada peristiwa tersebut.
Karena aku menyadari bahwa muslimah tersebut ku lihat di mimpiku, maka akupun berdoa kepada Allah agar Allah menghentikan keberadaannya dimimpiku lantaran aku tidak menginginkan apa yang aku mimpikan itu adalah penyerupaan jin, terkecuali di waktu ketika aku membutuhkan kedatangannya. 

Alhamdulillah, beberapa waktu kemudian aku tidak memimpikannya lagi, hingga akupun merasa agak lebih legaan lantaran aku takut jika syaitan ikut campur dalam hal ini.
Bagiku cukup dengan Ketawakalan dan keyakinan dari hatiku yang terdalamlah yang sekiranya mampu membuatku membedakan dirinya dengan sesuatu yang menyerupai dirinya.
Semoga Allah menunjuki kita semua kepada jalan yang benar. "Allahuma Amiin"

Memang dirinya sudah tidak sering datang di dalam mimpi-mimpiku.
Namun, dirinya kadang-kadang datang diwaktu aku perlu ada yang menegurku.
Entah mengapa setiap kali aku berbuat zalim seperti halnya aku tidak mampu menundukkan pandanganku, dirinya terkadang hadir dimimpiku beberapa hari kemudian ataupun bisa malam harinya ketika aku tertidur, untuk mengurku dengan bahasa khasnya yang cukup mampu menjadi nasehat dan introspeksiku atas perbuatan yang telah aku perbuat.

Bukan hanya itu iapun juga akan terlihat memberikan nuansa kepuasannya yang khas ketika aku mampu mengendalikan diriku.
Dia seolah benar-benar telah hidup di dalam diriku meskipun aku tidak mengenali siapa dirinya.
Namun aku yakin dia ada.
Dan ada pula beberapa hal spesial yang aku alami setelah peristiwa itu terjadi di mana perasaanku merasa tidak nyaman ketika aku menempatkan seseorang wanita untuk aku jatuh cintai jika bukan sosok tersebut, hatiku seolah terasa kering, tidak menenangkan dan mampu meresapi indahnya rasa cinta itu seperti hal yang pernah aku rasakan dahulu terhadap siapa yang mempesonakanku.

Seolah hati itu telah menjadi tidak peka terhadap cinta ketika aku sembarangan menempatkan seseorang yang salah di sana.
Namun ketika aku ingat dengan sosok yang pernah hadir dimimpiku itu, entah mengapa seolah hati ini begitu luas dan begitu ‘basah’ untuk menempatkan dirinya di hati ini. Subhanallah, hal ini benar-benar mampu mengajarkanku untuk mempertahankan perasaanku dengannya demi membantuku untuk mempertahankan Kecintaanku Kepada Allah, lantaran aku menyadari bahwa hatiku hanya satu sehingga aku tidak mampu jika harus mencintai lebih dari satu cinta terkecuali aku mencintai yang lainnya karenaNya.
"Insya Allah".

Mengenai keberadaannya pernah menjadi pertanyaan bagiku, namun hatiku lebih tenteram ketika meyakini bahwa keberadaannya itu memang benar-benar ada, meskipun aku tidak tahu dimanakah ia saat ini.
Jika saja muslimah sehebat Aisyah, Fatimah, Khadijah, Asiah dan Maryam pernah hidup di bumi ini, maka hal itu membuatku makin percaya akan keberadaannya.

Persitiwa ini mampu menjadikanku tersadar akan keterbatasan kemampuanku dalam memelihara hati demi menjaga Kecintaanku kepada Allah, membuatku yakin dengan kedatangan seseorang yang akan aku nikahi dan membuatku mengurungkan diri untuk mengira-ngira seseorang disekelilingku sehingga hal ini dapat cenderung membuatku mengurangi kesia-siaan.

Namun seperti dari awal, aku berharap kepada Allah agar Allah mempertemukanku ketika aku hendak menikahinya lantaran aku tidak mau menjadikan hati ini berlama-lama bermain dengan perasaanku terhadapnya walaupun nantinya dirinya akan dinikahkan olehku.
Namun, aku tidak berharap banyak, cukuplah Allah sebagai harapanku, Allah mengajarkanku keikhlasan, dan karenanya aku mencoba ikhlas untuk menerima selain dari yang dicirikan itu, jikalau memang benar dia tidak ada di bumi ini dan diwaktu yang bersamaan denganku ketika aku hidup.
Meskipun aku berharap kehadirannya lantaran aku merasakan bahwa dialah belahan jiwaku.
Bisa jadi aku menemukan sosok itu setelah aku menikah dengan seorang muslimah, ataupun bisa jadi muslimah itu adalah anak-anakku nanti yang dimana hal itu akan sangat membanggakan orang tuanya karena mengetahui memiliki anak yang shaleh dan shalehah.
Ataupun aku tidak menemukannya di manapun, karena bisa jadi dia adalah diriku sendiri yang memang telah Allah tentukan di dalam diriku agar aku bisa menjadi seperti dirinya dan mengajarkan itu kepada istriku kelak agar apa yang aku dapati dalam yakinku dapat terwujud.

Masya Allah

Aku tidak ‘jatuh cinta’ bukan karena aku tidak seperti laki-laki pada biasanya.
Hatiku kupersembahkan kepada Pemiliknya, dan diisi hanya kepada yang halal olehku, siapapun yang mengisinya nanti, dialah bidadariku…
"Subahanllah…"

Insya Allah
Terima kasih kepada siapa yang pernah mengalami peristiwa ini,
Semoga Allah senantiasa Merahmati dan mengampunkan segala dosa-dosamu beserta dosa-dosa kita semua dan menjadikan kita semua orang-orang yang dijauhi dari kesia-siaan.

Allahuma Amiin

(((Semoga alloh menjaga hati kita )))

U/bwi

Firmansyah Fawwaz

Tidak ada komentar:

Posting Komentar