Hijriah

Selasa, 23 September 2014

Senin, 22 September 2014

SEBUTIR EMBUN

Suara gemericik air terdengar lirih....
Menetes...
Mengisyaratkan....

Pagi yang indah seru sekalian alam.
Di bumi ini.....
Di bawah ufuk garis katulistiwa....
Di antara hamparan luas samudra yg indah.....
Dan diantara indahnya hidayah di bawah naungan pemilik alam semesta....

Disini....
Di indahnya negriku ini, betapa banyak jutaan manusia lalai akan kewajibannya. Kewajiban terhadap Robbnya, kewajiban dimana itu adalah hak Alloh yang harus di berikan....

Di sini....
Di keruhnya bangsaku ini, tak ubahnya sebuah pertanda, pertanda akan hilangnya hidayah yang telah diberikan pemilik semesta....

Andaikata dihitung nikmat mana yg telah diberikan Alloh kepada kita, takkan mampu pena ini menuliskan segala kemurahannya.
Tak kan mampu tinta seluas lautan ini menuliskannya....

Inilah tanda....
Tanda dimana dihapuskannya nikmat dalam diri kita....
Nikmat hidayah....

Betapa banyak manusia manusia yang saat ini......
Pagi ini.....
Dia beriman, lantas sore harinya dia berpaling....

Betapa banyak pribadi pribadi hari ini....
Saat ini.....
Dia berpaling dan malam harinya dia beriman....

Wahai manusia tanpa kita sadar kita telah tertipu. Tertipu terhadap dunia yang hina ini....
Di saat pagi tampak menunjukkan wajahnya....
Di saat pagi menunjukkan keindahannya...
Di saat itu pula sebutir embun mulai menetes kering....

Di saat hidayah hilang entah kemana....
Balikpapan, 28 Dhulqo'dah 1435 H

Jumat, 19 September 2014

PERNIKAHAN KAMI

Menikah....

Bukan sekedar pesta yang riuh oleh kerabat, relasi penting ,bukan ajang pamer tamu kehormtan, panggung megah, dekorasi wah atau pesta yang meriah..


Menikah...

Bukan sekadar membentuk tim kerja untuk menghasilkan uang untuk membeli segala jenis harta yang melimpah..

Bukan sekedar sarana belajar memasak, menjahit bagi istri dan sarana belajar membetulkan peralatan listrik bagi suami..


Menikah...

Bukan sekedar menyamakan hobi dan kegemaran sehingga sampai ada indigium humor: Kalau dua-duanya doyan musik, berarti ada gejala bisa langgeng..

Kalau sama-sama suka seafood berarti masa depan cerah...

)(That simple ?!


Menikah bukan sekedar itu…


Menikah berbeda dengan perumpamaan sepasang sandal, yang hanya punya aspek kiri dan kanan..


Menikah adalah penyatuan dua manusia..

pria dan wanita.

Dari anatomi saja sudah tidak sebangun, apalagi urusan jiwa dan hatinya...


So,

Menikah adalah ...

Menyatukan dua isi kepala, dua ide, dua impian menjadi sesuatu yang besar - Bermakna - tak hanya untuk kita,pasangan dan keluarga namun juga untuk orang lain di sekitar.


Menikah adalah...

Memutuskan berlabuh di satu pantai, ketika ratusan kapal pesiar gemerlap memanggil-manggil...


Menikah adalah..

Cara meraih sempurnanya agama, hingga menikah dikatakan sempurna menjalani setengah dari pada agama. ..


Menikah adalah...

Keberanian untuk menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan. Memupuk toleransi tingkat tinggi dan memaklumi pasangan apa adanya.


Menikah membutuhkan kelapangan hati untuk melebur kata ‘aku’ dan ‘kamu’ menjadi ‘kita’..


Menikah adalah..

Proses pendewasaan seseorang untuk lebih berani mengambil sikap dan memutuskan bahkan untuk urusan terkecil sekalipun.

Kerjasama hebat untuk bergerak, bersinergi untuk mendapatkan tiket surgaNya.


Menikah adalah..

Universitas kehidupan dimana cobaan materi, hati, iman adalah ujiannya.


Menikah adalah..

Belajar memaafkan dan belajar berkata “baiklah, itu salahku, akan kucoba memperbaikinya” .

Belajar berkomunikasi dua arah, dimana kita tidak berbicara :

” Kamu harus mengerti keinginanku!’, namun harus berani bicara “aku memahami kamu, aku memahami apa yang kamu mau dan cita2kan, mari bersama membangunnya”


Menikah ..

Mengajari kita begitu banyak tentang hidup, tentang bagaimana mencintai Allah dengan sempurna melalui kecintaan kita pada pasangan...

Menikah juga 

Bukan hal yang harus di takutkan atau harus di jadikan beban. Bahkan banyak sekali hadist tentang anjuran menikah yang muenganjurkan sederhana dan tanpa pesta yang meriah, karna tujuan utama menikah adalah menyempurnakan separuh dari agama, mengharap ridho dari alloh ta'ala dan tentunya menikah haruslah sesuai dengan syar'iyah....

Sahabatku diantaranya hadist dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ، فَقَدِ اسْـتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّيْـنِ، فَلْيَتَّقِ اللهَ فِيْمَـا بَقِيَ.

"Jika seorang hamba menikah, maka ia telah menyempurnakan separuh agamanya; oleh karena itu hendaklah ia bertakwa kepada Allah untuk separuh yang tersisa."

"Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga  bersabda

:مَنْ وَقَاهُ اللهُ شَرَّ اثْنَيْنِ وَلَجَ الْجَنَّةَ: مَـا بَيْنَ لَحْيَيْهِ، وَمَـا بَيْـنَ رِجْلَيْهِ.

"Barangsiapa yang dipelihara oleh Allah dari keburukan dua perkara, niscaya ia masuk Surga: Apa yang terdapat di antara kedua tulang dagunya (mulutnya) dan apa yang berada di antara kedua kakinya (kemaluannya)."


Sahabatku disini, melalui tulisan ini ingin ku sampaikan tentang hari pernikahan kami. Pernikahan yang sangat sederhana sekali, bukan juga maksud kami untuk menantang tradisi tradisi atau bahkan mungkin kebanyakan orang akan mengganggap pernikahan kami melanggar adat istiadat nenek moyang kami....

Sahabatku maafkan bila nanti dalam pernikahan kami tidak ada musik2 yang menghiasi atau bahkan terop terop untuk pesta resepsi.

Ku harap kalian berkenan hadir dalam pernikahan kami, hanya sekedar memberikan restu atau do'a buat kami...
Karna itulah harapan terbesar dari kami.

Semoga setiap kita dapat menempuh pernikahan yang diRidhoi 

Sahabatmu

Firmansyah & Ismiasih

Selasa, 02 September 2014

BEGINILAH CARAKU MENJAGA HATI Bag.4

HATI.....

Sekali lagi HATI....

Banyak sekali permasalahan dengan hati yang hinggap pada jasad manusia.
Namun siapa yang dapat menebak masalah HATI....
Tak seorangpun yang dapat mengukur keikhlasan hati...
Bahkan perumpamaan tentang masalah hati ini sering kali di sebut dengan pepatah "Dalamnya lautan bisa diukur namun dalamnya hati siapa yang tau "

Hati....
Bahkan tingkatan ketakwaan seseorangpun di tentukan oleh benda kecil yang menempel pada jasad manusia ini.

Kesabaran, keikhlasan, kesetiaan, dan segala bentuk nilai nilai kemanusiaan yang lainnya tentu madih berhubungan dengan hati...

Terlepas dari semua masalah danbproblematika seputas hati.
Alloh dan rosulnya banyak sekali memberikan do'a atu bahkan nasehat2 tentang bagaimana sikap muslim dalam menentukan hati ini....

Hati...
Seperti organ tubuh yang lainnya tak hanya butuh asupan gizi namun juga butuh asupan nutrisi.
Hati...
Demikianlah para ulama menimbang perkara ini hati membutuhkan asupan untuk jasmani dan rohani
Karna hati merupakan penentu daripada jasad yang ada pada manusia...

Sampai sampai  beberapa doa dari Al-Quran dan hadits-hadits shohih yg semestinya dibaca oleh setiap muslim dan muslimah agar ia senantiasa sabar, tegar dan istiqomah di atas agama Islam dan dalam melaksanakan amal-amal ketaatan kepada Allah Ta’ala banyak disebutkan di dalam Al Qur'an dan Hadist nabi
Diantara doa doa tersebut adalah.

DOA PERTAMA

:رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ‘

Robbanaa Laa Tuzigh Quluubanaa Ba’da Idz Hadaitanaa wa Hab Lanaa Min-Ladunka Rohmatan, innaka Antal-Wahhaab’

Artinya: “Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Dzat yang Maha Pemberi (karunia).”
(QS. Ali Imran: 8).

DOA KEDUA

:رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ‘

Robbanaa Afrigh ‘Alainaa Shobron wa Tsabbit Aqdaamanaa wanshurnaa ‘Alal Qoumil Kaafiriin’.Artinya: “Wahai Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran atas diri kami, dan teguhkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”
(QS. Al Baqarah: 250).

DOA KETIGA

:يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ‘

Ya Muqollibal Quluubi Tsabbit Qolbiy ‘Alaa Diinika’.Artinya:
“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
(HR. At-Tirmidzino.3522, imam Ahmad IV/302, Al-Hakim I/525. Lihat Shohih Sunan At-Tirmidzi no.2792).»

Do’a ini merupakan doa yang paling sering dipanjatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

DOA KEEMPAT

:اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ‘

Allaahumma Mushorrifal Quluub, Shorrif Quluubanaa ‘Alaa Tho’atika’Artinya:
“Ya Allah, Dzat yang mengarahkan hati, arahkanlah hati-hati kami untuk selalu taat kepada-Mu.”
(HR. Muslim).

Demikianlah beberapa doa dari Al-Quran dan Hadits Shohih yg sepantasnya dipanjatkan oleh kita semua agar Allah ta’ala memberikan kpd kita taufiq dan pertolongan-Nya serta kemudahan untuk senantiasa sabar dan tegar serta istiqomah dalam memegang teguh agama Islam dan melaksanakan ketaatan kepada-Nya hingga akhir hayat.

Smg menjadi ilmu yg bermanfaat dan kita dapat mengamalkannya.

آمِيْنَ يَارَبَّ الْعَالَمِْنَ

Balikpapan kota beriman.
Kalender Hijriah menunjukkan angka

7 Dhulqo'dah 1435 H

Yang sedang berusaha menata hati.
Firmansyah Fawwaz

BEGINILAH CARAKU MENJAGA HATI Bag.1

Dialah HATI (segumpal darah yang apabila segumpal darah itu rusak maka rusaklah seluruh tubuhnya, apabila dia sehat/baik maka baiklah seluruh tubuhnya)

Telah 5 tahun sudah, ku mencoba untuk mempertahankan hati ini untuknya, walaupun aku belum pernah melihat, mendengar, berinteraksi dan bertemu dengannya secara langsung untuk menjaga kesucian hatiku kepadaNya.
Cerita ini berawal ketika hidayah itu telah datang dan dengan datangnya itu mampu mengubah segalanya jadi lebih indah dan terarah untuk ku tempuh.

Dahulu aku adalah seorang anak manusia yang biasa-biasa saja, seperti anak muda normal lainnya.
Aku pun terkadang sering jatuh cinta kepada siapa yang aku kagumi.
Hampir setiap hari mungkin hidupku terbiasa akan hal itu, hingga hal itu menjadi sesuatu yang lumrah dalam pribadiku.
Namun, pada suatu ketika datanglah Hidayah kepadaku.
Hidayah yang didasari dari materi Cinta Kepada Allah yang banyak aku pelajari dari sekelilingku ditambah dengan materi dari guru ngajiku serta uatadz2 setiap kali kajian rutin atau tematik.
Hidayah itu menumbuhkan aku untuk mencintai Rabb(Tuhan) sehingga membuatku rela untuk menyingkirkan yang lainnya di hatiku terkecuali aku mencintai yang lainnya karenaNya.

Kedatangan Cahaya itu mampu membuatku membuka mata hatiku dalam mengaplikasikan cinta, tanpa harus membawaku kepada jurang kehancuran.
Sehingga akupun mulai berhati-hati terhadap hatiku dalam mencintai agar Cintaku kepada Allah yang telah DikaruniakanNya kepadaku mampu ku jaga karena aku menyadari bahwa hatiku miliknya.

Dan Karena akupun juga menyadari bahwa cinta yang salah mampu melumpuhkan kualitas Cintaku denganNya, sedangkan yang aku harapkan adalah CintaNya karena tidak ada yang mampu mencukupiku kecuali Dia.
Sejak kedatangannya, hidayah itu mampu merubah segalanya yang ada pada diriku seperti masalah cara berfikir dan kepribadianku hingga orintasiku dalam mencintai sesuatu.
Termasuk masalah ketertarikanku dalam menyukai sesuatu.
Jika sebelumnya mungkin aku tertarik kepada wanita yang biasa-biasa saja, maka setelah Hidayah itu datang justru hatiku tertarik untuk menyukai muslimah dengan busana khas dan sikapnya yang cenderung pemalu. Dan oleh karena itu akupun berharap agar Allah menakdirkanku untuk menikah dengan salah satu diantara mereka, muslimah yang shalehah.
"Insya Allah, Allahuma Amiin".

Karena aku mengetahui bahwa menikah adalah Sunnah Rasulullah.
Walaupun demikian, namun Hidayah itupun mampu mengajarkan aku dalam mengendalikan perasanku agar hatiku tidak salah dalam menyikapi apa yang menarik hatiku.
Karena bagiku rasa ketertarikanku cukuplah akan aku tumpahkan kepada istriku kelak walaupun aku belum pernah bertemu dengannya.
Karena sejak awal, hidayah itu mampu membuatku memahami diriku akan hakikat mencintai pasanganku walaupun sebelum aku menikah dengannya tanpa membuat aku cenderung melupakan Allah, lantaran aku memahami bahwa kalau saja Allah menjadikan aku menikah dengan seseorang perempuan yg ditakdirkan Allah kepadaku maka untuk apa aku berharap dan menghabiskan waktuku kepada yang lainnya yang belum tentu akan menjadi istriku kelak, sedangkan hati ini mudah terdominasi dengan sesuatu hal yang lain jika kita tidak mampu mempertahankan hakikatnya dalam mencintai Rabb?.

Dan karena akupun tidak memungkiri bahwa setiap manusia yang normal pasti akan merasakan fitrahnya, termasuk permasalahan ketertarikannya terhadap lawan jenis, maka jika harus demikian, menurutku untuk apa jika hati ini aku tambatkan kepada siapa yang bukan orangnya nanti, jika memang hati ini sangat peka terhadap pengaruh diri yang memilikinya ketika hati itu salah dalam pengelolaannya.

Oleh karenanya, aku memahami bahwa: Jika memang aku harus mencintai lantaran mencintai lawan jenis adalah fitrahku sebagai manusia maka aku akan mencoba untuk mencintai siapa yang akan aku nikahi nanti walaupun aku belum pernah bertemu dengannya, lantaran pasti Allah akan mempertemukanku dengannya, sehingga usahaku yang sia-sia akan cenderung berkurang di dalam lingkup fitrahku.

"Insya Allah"

Sejak saat itu hatiku mulai tersadarkan untuk meninggalkan hal-hal yang sia-sia dalam cinta yang tidak memberikan manfaat kepadaku dalam MencintaiNya dan cinta yang mampu membuat hatiku cenderung meninggalkan Rabb.
***Waktupun berjalan seiring kegembiraanku atas datangnya hidayah itu.
Hingga tanpa aku sadari godaaan-godaan kecilpun datang dari sekelilingku untuk menyukai muslimah yang aku rasa belum saatnya aku harus bersikap demikian kepadanya.
Tanpa ku sadari hal itu mampu membuatku sedikit gundah, mungkin karena aku belum mampu mengendalikan fikiranku terhadap apa yang mempesonakanku terhadap mereka.
Kegundahanku itu membuatku khawatir jika dengan demikian maka nikmat karunia yang berupa Hidayah itu akan menyingkir dari diriku lantaran sikapku yang salah.
Sehingga, akupun berdoa dan meminta petunjuk kepada Allah agar Allah mengkaruniakanku kefahaman agar aku terus istiqomah untuk menyikapi hatiku ketika ia harus menghadapi fitrahnya.
Singkat cerita......
lantaran aku mengetahui bahwa istikharah adalah salah satu cara yang dapat meyakinkan diri kita terhadap suatu pilihan, oleh karenanya setiap godaan itu datang, dan di setiap ketidakmampuanku dalam menjaga diriku dalam mengelola hati, maka akupun berusaha untuk mengistikharahkan siapapun yang mempesonakanku agar aku dapat mengetahui diantara mereka siapakah orang yang aku “cari” sehingga hal itu dapat cenderung membuatku terhindar dari kesia-siaanku dalam pengelolaan hati yang salah yang aku takutkan dapat cenderung mampu melumpuhkan rasa Cintaku kepada Rabbku.
Setelah aku membiasakan diri untuk istikharah di setiap waktu ada yang mempesonakanku, seolah dengan itu hatiku mampu diyakinkan kepada siapa yang akan aku nikahi nanti walaupun aku belum pernah mengenalnya. Sepertinya dirinya telah terkesan di hatiku sehingga hal itu mampu membedakan dirinya dengan yang lainnya, kemudian dengan itu dapat membuatku melepaskan harapan dan keinginan hatiku kepada arah yang salah dalam pengelolaannya terhadap siapa yang bukan orangnya. 

Mungkin inilah cara Allah dalam meyakinkanku untuk mempertahankan hatiku kepada siapa yang pantas aku cintai nantinya yang salah satunya diperoleh melalui jawaban dari istikharah-istikharah itu.
Walaupun demikian, aku masih tetap seperti dengan manusia normal lainnya, hal ini kubuktikan dengan masih adanya rasa kagum dengan muslimah yang mempesonakanku, namun keberadaan mereka tidak sempat singgah dihatiku lantaran hatiku seolah gelisah ketika aku mendapati orang yang salah jika ku taruh di “sembarang” tempat dihatiku.

Namun ketika aku mengingat tentang sosok yang aku yakini akan aku nikahi nantinya, dan ku hadirkan dia di hatiku, meskipun aku belum mengenalnya dan aku belum mengetahui jasadnya, maka entah mengapa perasaanku seolah (cenderung) tenteram karenanya.

Mungkin hal itu terjadi karena hatiku telah berfatwa terhadapnya….
Mengenai hati yang berfatwa, aku menjadi teringat dengan sebuah hadist Rasulullah bahwa:
"Mintalah fatwa kepada hatimu. Kebaikan itu adalah ketika jiwa dan hati menjadi tenang kepadanya. Sedangkan al-itsm (dosa) adalah yg membingungkan jiwa dan meragukan hati. Meskipun manusia memberi fatwa kepadamu.” (HR Muslim)

Mungkin karena ketenteraman dan kegelisahan yang aku dapati itulah dapat membuat diriku mengurungkan diri untuk tidak melepaskan tambatan hati ini kepada orang yang bukan dirinya yang akan aku nikahi nanti.

BEGINILAH CARAKU MENJAGA HATI Bag.3

Hatiku memang tak seputih salju atau sejerni embun.

Beberapa waktu kemudian, kehidupanku mulai berubah, seeolah aku telah memulai lembaran hidupku yang baru, hal-hal yang telah terjadi seolah telah tersapu oleh air mata pembersihan diri ketika malam itu, membuatku bersemangat untuk mensucikan hati ini kepada siapa yang patut menempatinya.
Perasaanku lebih tenang setelah aku memohon maaf kepadaNya sehingga menjadikan kegundahanku terkikis beserta kecemasan-kecemasan lainnya.
Namun, ada beberapa hal yang menurutku ajaib dari peristiwa yang aku alami sejak malam itu, entah mengapa dalam tidurku terkadang aku sering bermimpi didatangi oleh seseorang muslimah yang Insya Allah, shalehah dan baik kepribadiannya yang aku tidak pernah bertemu dengannya namun sepertinya aku mengenalinya, senyum, putih, pemalu, sosoknya menenangkan jiwa, membuat hatiku bergetar tentang kedatangannya.
Hingga akupun berkesimpulan bahwa inikah jawaban Allah atas permintaanku waktu itu?.
Aku tak mampu menjawabnya secara mutlak, namun keyakinanku dan gerak hatiku mampu meyakinkanku bahwa kedatangannya itu ada sangkut pautnya dengan keyakinanku kepada Allah akan terkabulnya doa yang pernah ku panjatkan kepada Allah ketika malam itu.
Dan hal ini sedikit terbukti ketika aku melakukan istikharah untuknya, perasaan tenang yang tidak aku temukan jika aku meng-istikharahkan yang lainnya. Masya Allah…

Walaupun sosoknya telah tersibakkan, namun Jika aku disuruh menggambarkan wajahnya maka aku tidak mampu, karena aku tidak bisa melihat jelas bagaimana wajahnya, namun sepertinya hanya hatiku-lah yang mampu mendeskripsikannya, hingga gambaran wajah itu mampu membawaku kepada ketenteraman dan ketenangan yang memuaskan hati.
Mungkin dengan ini, hatiku telah berfatwa lagi atas dirinya…

Namun, bukan hanya wajahnya saja yang Allah tunjukkan kepadaku, melainkan karakter-karakter khasnya yang diperkenalkan kepadaku agar dengan itu mampu membedakan membantuku dirinya dengan yang lainnya secara lebih tepat.

Masya Allah…

Sebelumnya aku mengira-ngira bahwa apa yang aku alami itu merupakan kebisaan fikiranku dalam berimajinasi, namun ketika ku telaah lagi, peristiwa itu dapat mengingatkanku kepada apa yang pernah Rasulullah sabdakan dalam sebuah hadist, meskipun hadist ini telah ditemukan olehku 5 tahun setelah kejadian itu.

“Rasulullah saw bersabda kepada Aisyah, “sebelum aku menikahimu, aku pernah melihatmu dua kali di dalam mimpi. aku melihat Malaikat membawa secarik kain yang terbuat dari sutra. kukatakan kepadanya, ‘Singkapkanlah.’ Malaikat itupun menyingkapnya. dan ternyata kain itu memuat gambarmu. 
lalu kukatakan,
“jika ini merupakan ketentuan Allah, maka dia pasti akan membuatnya terjadi. ‘Pada kesempatan lain aku kembali melihatnya datang membawa secarik kain yang terbuat dari sutra. Maka kukatakan kepadanya, ‘Singkaplah.’ Malaikat itupun menyingkapnya. dan ternyata kain itu memuat gambarmu.
lalu aku berkata, “jika ini merupakan ketentuan Allah, maka dia pasti akan membuatnya terjadi.
(HR Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Subhanallah, aku tidak percaya ini, namun aku tetap bertawakal kepada Allah jikalau aku mendapatkan kesalahan atas apa yang terjadi pada peristiwa tersebut.
Karena aku menyadari bahwa muslimah tersebut ku lihat di mimpiku, maka akupun berdoa kepada Allah agar Allah menghentikan keberadaannya dimimpiku lantaran aku tidak menginginkan apa yang aku mimpikan itu adalah penyerupaan jin, terkecuali di waktu ketika aku membutuhkan kedatangannya. 

Alhamdulillah, beberapa waktu kemudian aku tidak memimpikannya lagi, hingga akupun merasa agak lebih legaan lantaran aku takut jika syaitan ikut campur dalam hal ini.
Bagiku cukup dengan Ketawakalan dan keyakinan dari hatiku yang terdalamlah yang sekiranya mampu membuatku membedakan dirinya dengan sesuatu yang menyerupai dirinya.
Semoga Allah menunjuki kita semua kepada jalan yang benar. "Allahuma Amiin"

Memang dirinya sudah tidak sering datang di dalam mimpi-mimpiku.
Namun, dirinya kadang-kadang datang diwaktu aku perlu ada yang menegurku.
Entah mengapa setiap kali aku berbuat zalim seperti halnya aku tidak mampu menundukkan pandanganku, dirinya terkadang hadir dimimpiku beberapa hari kemudian ataupun bisa malam harinya ketika aku tertidur, untuk mengurku dengan bahasa khasnya yang cukup mampu menjadi nasehat dan introspeksiku atas perbuatan yang telah aku perbuat.

Bukan hanya itu iapun juga akan terlihat memberikan nuansa kepuasannya yang khas ketika aku mampu mengendalikan diriku.
Dia seolah benar-benar telah hidup di dalam diriku meskipun aku tidak mengenali siapa dirinya.
Namun aku yakin dia ada.
Dan ada pula beberapa hal spesial yang aku alami setelah peristiwa itu terjadi di mana perasaanku merasa tidak nyaman ketika aku menempatkan seseorang wanita untuk aku jatuh cintai jika bukan sosok tersebut, hatiku seolah terasa kering, tidak menenangkan dan mampu meresapi indahnya rasa cinta itu seperti hal yang pernah aku rasakan dahulu terhadap siapa yang mempesonakanku.

Seolah hati itu telah menjadi tidak peka terhadap cinta ketika aku sembarangan menempatkan seseorang yang salah di sana.
Namun ketika aku ingat dengan sosok yang pernah hadir dimimpiku itu, entah mengapa seolah hati ini begitu luas dan begitu ‘basah’ untuk menempatkan dirinya di hati ini. Subhanallah, hal ini benar-benar mampu mengajarkanku untuk mempertahankan perasaanku dengannya demi membantuku untuk mempertahankan Kecintaanku Kepada Allah, lantaran aku menyadari bahwa hatiku hanya satu sehingga aku tidak mampu jika harus mencintai lebih dari satu cinta terkecuali aku mencintai yang lainnya karenaNya.
"Insya Allah".

Mengenai keberadaannya pernah menjadi pertanyaan bagiku, namun hatiku lebih tenteram ketika meyakini bahwa keberadaannya itu memang benar-benar ada, meskipun aku tidak tahu dimanakah ia saat ini.
Jika saja muslimah sehebat Aisyah, Fatimah, Khadijah, Asiah dan Maryam pernah hidup di bumi ini, maka hal itu membuatku makin percaya akan keberadaannya.

Persitiwa ini mampu menjadikanku tersadar akan keterbatasan kemampuanku dalam memelihara hati demi menjaga Kecintaanku kepada Allah, membuatku yakin dengan kedatangan seseorang yang akan aku nikahi dan membuatku mengurungkan diri untuk mengira-ngira seseorang disekelilingku sehingga hal ini dapat cenderung membuatku mengurangi kesia-siaan.

Namun seperti dari awal, aku berharap kepada Allah agar Allah mempertemukanku ketika aku hendak menikahinya lantaran aku tidak mau menjadikan hati ini berlama-lama bermain dengan perasaanku terhadapnya walaupun nantinya dirinya akan dinikahkan olehku.
Namun, aku tidak berharap banyak, cukuplah Allah sebagai harapanku, Allah mengajarkanku keikhlasan, dan karenanya aku mencoba ikhlas untuk menerima selain dari yang dicirikan itu, jikalau memang benar dia tidak ada di bumi ini dan diwaktu yang bersamaan denganku ketika aku hidup.
Meskipun aku berharap kehadirannya lantaran aku merasakan bahwa dialah belahan jiwaku.
Bisa jadi aku menemukan sosok itu setelah aku menikah dengan seorang muslimah, ataupun bisa jadi muslimah itu adalah anak-anakku nanti yang dimana hal itu akan sangat membanggakan orang tuanya karena mengetahui memiliki anak yang shaleh dan shalehah.
Ataupun aku tidak menemukannya di manapun, karena bisa jadi dia adalah diriku sendiri yang memang telah Allah tentukan di dalam diriku agar aku bisa menjadi seperti dirinya dan mengajarkan itu kepada istriku kelak agar apa yang aku dapati dalam yakinku dapat terwujud.

Masya Allah

Aku tidak ‘jatuh cinta’ bukan karena aku tidak seperti laki-laki pada biasanya.
Hatiku kupersembahkan kepada Pemiliknya, dan diisi hanya kepada yang halal olehku, siapapun yang mengisinya nanti, dialah bidadariku…
"Subahanllah…"

Insya Allah
Terima kasih kepada siapa yang pernah mengalami peristiwa ini,
Semoga Allah senantiasa Merahmati dan mengampunkan segala dosa-dosamu beserta dosa-dosa kita semua dan menjadikan kita semua orang-orang yang dijauhi dari kesia-siaan.

Allahuma Amiin

(((Semoga alloh menjaga hati kita )))

U/bwi

Firmansyah Fawwaz

BEGINILAH CARAKU MENJAGA HATI Bag.2

Waktu berjalan dengan caraku menjaga hati itu, membuat hidupku lebih tersenyum lantaran kegundahanku itu mengurang seiring usahaku dalam meyakinkan hatiku untuk tidak salah dalam pengelolaannya, melalui istikharah-istikharahku kepada Rabb.

Semua itu aku lakukan untuk mempertahankan hatiku kepada Pemiliknya karena aku berharap agar Pemiliknya tidak tersingkir dari singgasananya lantaran pengelolaan yang salah.

Namun, cobaan belum begitu saja berakhir hingga pada suatu ketika Allah sibakkan aku bertemu dengan seorang muslimah yang begitu mengagumkan.
Dia berbeda, tidak seperti muslimah yang pernah aku temui pada biasanya, lantaran keberadaannya entah mengapa hampir menyerupai perasaanku terhadap sosok yang akan aku nikahi itu.
Kemungkinan ini jauh dari apa yang aku bayangkan, karena hal ini sepertinya akan lebih mengancam pertahananku dalam mempertahankan hatiku untuk Rabb.
Apalagi aku meyadari bahwa wanita merupakan godaan terbesar seorang laki-laki.
Terkadang fikirankupun terbuai dengan dirinya di saat-saat aku kurang siaga dalam memelihara hati ini untukNya.
Hingga akupun kehilangan definisi dalam mempertahankan hatiku untukNya.
Mungkin karena terpesonanya aku dengan keserupaannya dengan keyakinanku terhadap sosok yang akan ku nikahi itu, membuatku terlupa untuk mengetahui jawabannya dengan istikharah-istikharahku dalam usahaku meyakinkan diriku atasnya.
Dan tanpa ku sadari…
Hal-hal Rabbani ((Ketuhanan (maksudny a: Keislaman)) yang aku kenali seolah menjadi nuansa yang datar di hati, awalnya ku anggap hal itu sebagai futur (menurunnya iman) yang biasa, namun aku mendapati bahwa nuansa khas itu belum kunjung tiba dalam waktu yang cukup lama dan ketika aku telah lelah menunggu kedatangannya kembali.

Hal-hal yang dahulunya begitu peka di relung-relung hati ini seolah berkurang penginderaannya, hingga akupun menyadari bahwa hal ini terjadi karena sikapku yang salah dalam pengelolaan hati terhadap seorang muslimah yang menyerupai sosok yang akan aku nikahi itu.
Ketika aku tersadar , hal itu dapat membuatku takut ketika aku berfikir jikalau Allah mem-futurkanku dengan keadaan yang demikian.
Jika demikian aku harus melakukan tindakan pencegahan agar perbuatanku tidak menjadikan keburukan bagiku.
Sesekali ku coba bertanya dalam hati, bahwa jika memang dirinya adalah orangnya maka hal itu seharusnya tidak membuatku jauh dari Allah, lantaran dasarku menambatkan hati kepadanya adalah karena Cintaku Kepada Rabb.
Hingga akhirnya aku meyadari dari gerak hatiku bahwa bukan muslimah itulah orangnya.
Hingga keadaanpun mampu menegurku, sehingga dapat membantu menyadarkanku dari kesalahan yang telah aku perbuat, meskipun pesonaku terhadapnya belum pulih.Pada suatu malam, akhirnya ku coba diri ini memohon ampun kepada Allah atas apa yang telah aku perbuat, dan memohon pulihnya karunia yang sekiranya enggan terasa indah dihatiku ketika itu.
Dan akupun berharap kepadaNya agar hal yang seperti itu tidak terjadi kembali, lantaran aku tidak mau lagi bermain-main dengan hati ini lantaran aku sadari bahwa hati ini milikNya dan hanya kepada dan karenaNyalah seharusnya ku tambatkan.

Dan aku berharap agar Allah menguatkan firasatku kepada sosok yang telah aku yakini yang terlahir dari istikharah-istikharahku terhadap siapa saja yang pernah mempesonakanku.

Hingga akupun memberanikah diri untuk berdoa:
“Yaa Allah, Sucikanlah hatiku hanya untuk siapa yang pantas menempatinya dengan keridhaanMu.
Cukup dia sajalah yang aku cintai karena aku tidak menginginkan keburukan katika aku berbuat salah terhadap hatiku."
“Ya Allah, aku tahu bahwa Engkau Maha Berkehendak dan akupun tidak meragukan KekuasaanMu Karena Engkau adalah Dzat Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, maka aku memohon kepadaMu agar Engkau memampukan diriku untuk dapat mengetahui wajah dari siapa yang akan aku nikahi nanti walaupun hanya sekejap saja agar dengan itu aku mampu membedakan dirinya dengan yang bukan dirinya, agar aku dapat cenderung menjauhkan hati ini dari kesia-siaan. Aku yakin bahwa Engkau mampu menjadikannya, dan aku yakin atas hal yang terbaik bagiku dari segala keinginanku, ku lakukan ini karena aku telah merindukannya dan mensyukurinya lantaran Engkau takdirkan aku kepadaNya.
Dan maafkan aku jika aku tersalah. Ku mohon atas KuasaMu, ya Rabb.
Dan pertemukanlah aku dengannya ketika aku hendak menikahinya agar aku tidak berlama-lama menjadikan hati ini terlena dengannya walaupun aku tahu bahwa nantinya dia akan aku nikahi.
Jagalah hatiku untukMu Rabb, karena aku ingin selalu MencintaiMu lantaran Engkaulah Dzat yang pantas aku Cintai sepenuh hatiku.
Allahuma Amiin”

Pintaku penuh harap dan lirih…

Dengan harap-harap cemas ku sadari doa itu lantaran aku takut jika aku telah berbuat kesalahan.
Entah hal apa yang mampu membuatku memberanikan diri untuk berdoa seperti itu, mungkin saja karena rasa penasaranku yang telah tertanam terhadap sosok yang kuyakini itu.
Namun perasaan yakin bahwa aku tidak melakukan kesalahan membuatku sedikit lega.
Setelah itupun aku tertidur, mungkin karena aku terlelah…

Sabtu, 30 Agustus 2014

Kesalahan kesalahan penulisan

Berikut ini adalah beberapa kekeliruan pengucapan dan penulisan yang sering dijumpai:

1. SUBHAANALLAAHU Yang benar adalah SUBHAANALLAAHI. Karena lafazh SUBHAAN adalah Isim, bukan Fi'il. Sehingga lafazh tersebut berada dalam konsep (tarkib) Idhofah.  Lafazh "ALLAAHI" sebagai Mudhof Ilaih,  i'rabnya Majrur dengan kasrah.

2. JAZAAKALLAAHI Yang benar adalah JAZAAKALLAAHU. Karena lafazh "JAZAA" adalah Fi'il, bukan Isim. Sehingga lafazh "ALLAAHU" menjadi Faa'il, Marfu' dengan dhommah.

3. BAARAKILLAAHU Biasanya ucapan ini disampaikan kepada wanita. Hal ini karena si pengucap mengira bahwa huruf "KA" pada lafazh "BAARAKALLAAH" adalah dhomir (kata ganti), sehingga kalau diucapkan kepada wanita harus diganti dengan "KI" , jadilah BAARAKILLAAH.Ini tidak benar. Karena "KA" pada lafazh BAARAKA adalah asli bagian dari Fi'il tersebut, bukan dhomir. BAARAKA YUBAARIKU artinya memberkahi. Jadi, dalam penggunaannya tidak benar bila diganti dengan KI. Lantas, mana yang harus dirubah dhomirnya? Yaitu lafazh "FIIKA" digantI "FIIKI" apabila diucapakan kepada wanita. BAARAKALLAAHU FIIKA (untuk 1 laki2). BAARAKALLAAHU FIIKI (untuk 1 wanita).

4. SHOLLALLAAHU 'ALAIHI WASALAAM Yang benar adalah WA SALLAM. Karena SALLAM pada lafazh tersebut adalah Fi'il, bukan Isim.

5. ASALAAMU'ALAIKUMYang benar adalah ASSALAAMU'ALAIKUM (dobel huruf S). Karena lafazh Salam-nya mengandung Alif Laam Syamsiyyah. Jika tidak didobel S akan memberikan makna yang berbeda.

Allahu a'lam

Semoga manfaat

HATI YANG HITAM Bag. 2

Sesungguhnya, hati kita telah tahu bahwa kita akan membuat kesalahan.
Bukankah pernah Kita alami, saat hati Kita merasa sesuatu itu berbahaya, tapi Kita meneruskannya, hingga akhirnya terluka, baik badan atau hati?
Sebagian besar orang yang salah investasi atau salah menikah, telah melawan nasehat baik dari hatinya sendiri atau dari keluarga dan sahabatnya.

Maka belajarlah untuk menjadi tenang, agar lebih jelas terdengar nasehat baik hati yang ingin memelihara kebaikanmu.

Apakah ada di antara orang yang Kita sayangi atau yang Kita sahabati, yang perilakunya seperti menginginkan kita merasa minder, tidak percaya diri, merasa selalu salah, dan selalu kurang?
Memang ada orang yang merusak kedamaian dan melemahkan hati kita untuk menguasai kita.
Terhadap mereka, jagalah jarak.
Hiduplah damai bersama diri sendiridan mereka yang menghormati hak Kita untuk menjadi pribadi yang kuat dan berbahagia.

Sahabatku yang baik hatinya, Engkau menjadi pribadi yang kuat, saat engkau tidak mengijinkan kelemahanmu menghalangi penggunaan dari kekuatanmu. Kemudian,

Engkau menjadi pribadi yang khusus saat engkau menggunakan kekuatanmu untuk kebaikan sesama.
Maka, kuatkanlah dirimu, dan abdikanlah penggunaan dari kekuatanmu pun untuk mendamaikan dan menguatkan jiwa-jiwa yang merindukannya.

Hanya dengan menguatkan sesama,engkau menjadi kuat dan dengan membahagiakan sesama,engkau dibahagiakan.

Sahabatku, saya letih sekali dengan kehidupan yang tanpa harapan, rasanya seperti saya berlari di tempat.
Sahabatku yang baik hatinya, Janganlah mematikan harapanmu.

Sesungguhnya, Allah menemuimu pada tingkat harapanmu.
Jika harapanmu rendah, pasti keikhlasanmu untuk berubah juga rendah, maka rendahlah yang kau terima.
Jika harapanmu tinggi, engkau bekerja dengan jujur, ceria, dan rajin, Allah akan membaikkan hati sesamamu terhadapmu, dan menugaskan beberapa malaikat untuk membantumu.

Aamiin. 

Kalau ada orang menghina bagaimana cara untuk tetap setia kepada niat baik?
Kebaikan yang kita lakukan kepada sesama, adalah kebaikan yang akan kita terima.
Karena, Hadiah pertama bagi orang yang melakukan kebaikan adalah kebaikan.
Orang yang menghina orang lain, sesungguhnya sedang mempersulit hidupnya sendiri.
Apakah ada orang yang suka menghina, yang hidupnya bebas dari kegerahan dan kemarahan?

Kasihilah mereka yang tidak mengerti.

Mulailah dengan kebiasaan hidup yang baik semuda mungkin.

Mulailah dengan memelihara kebaikan hati.
Isilah hatimu dengan kasih sayang dan penerimaan bahwa orang lain juga memerlukan waktu untuk menjadi pribadi yang baik dan menyenangkan bagimu.

Semoga yang singkat ini selalu menjadi pengingatku sebelum menjadi pengingat yang membaca...

Balikpapan kota beriman
Di mess 1 tepat di kalender yang menunjukkan angka 4 dulqo'dah 1435 H

HATI YANG HITAM

Sahabatku…

HATI adalah organ yang paling utama dalam tubuh manusia dan nikmat paling agung diberikan oleh Allah.
Hati menjadi tempat Allah membuat penilaian terhadap hamba-Nya.
Pada hatilah letaknya niat seseorang.
Niat yang ikhlas itu akan diberi pahala oleh Allah.
Hati perlu dijaga dan dipelihara dengan baik agar tidak rosak, sakit, buta, keras dan lebih-lebih lagi tidak mati.
Sekiranya berlaku pada hati keadaan seperti ini. Maka, akan lahirlah penyakit masyarakat berpuncak dari hati yang sudah rusak itu.

Justru, hati adalah amanah yang wajib dijaga sebagaimana kita diamanahkan untuk menjaga mata, telinga, mulut, kaki, tangan dan sebagainya daripada berbuat dosa dan maksiat.
Hati yang hitam ialah hati yang menjadi gelap kerana dosa.
Setiap satu dosa yang dilakukan tanpa bertaubat itu akan menyebabkan terjadinya satu titik hitam pada hati. Itu baru satu dosa.
Maka bayangkanlah bagaimana pula kalau sepuluh dosa? Seratus dosa? Seribu dosa? Alangkah hitam dan kotornya hati ketika itu.

Perkara ini jelas digambarkan dalam hadis Rasulullah bermaksud:
“Siapa yang melakukan satu dosa, maka akan tumbuh pada hatinya setitik hitam, sekiranya dia bertaubat akan terkikislah titik hitam itu daripada hatinya.
Jika dia tidak bertaubat, maka titik hitam itu akan terus merebak hingga seluruh hatinya menjadi hitam.”
(Hadis riwayat Ibn Majah).
Hadis ini selaras dengan firman Allah:
“Sebenarnya ayat-ayat Kami tidak ada cacatnya, bahkan mata hati mereka telah diseliputi kekotoran dosa dengan sebab perbuatan kufur dan maksiat yang mereka kerjakan.”
(Surah al-Muthaffifiin ­, ayat 14).

Hati yang kotor dan hitam akan menjadi keras. Apabila hati keras, kemanisan dan kelazatan beribadah tidak dapat dirasakan.
Ia akan menjadi penghalang kepada masuknya bhya iman dan ilmu.
Belajar sebanyak mana pun ilmu yang bermanfaat atau ilmu yang boleh memandu kita, namun ilmu itu tidak akan masuk ke dalam hati, kalau pun kita tahu, tidak ada daya dan kekuatan kita untuk mengamalkannya.

Allah berfirman:
“Kemudian setelah itu, hati kamu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.
Pada hal antara batu-batu itu ada yang terpancar dan mengalir sungai daripadanya, dan ada pula antaranya yang pecah-pecah terbelah lalu keluar mata air dari padanya.
“Dan ada juga antaranya yang jatuh ke bawah kerana takut kepada Allah sedang Allah tidak sekali-kali lalai dari pada apa yang kamu kerjakan.”
(Surah al-Baqarah, ayat 74).

Firman-Nya lagi:
“Hari yang padanya harta benda dan anak-anak tidak dapat memberikan pertolongan, kecuali harta benda dan anak-anak orang yang datang menghadap Allah dengan hati yang selamat sejahtera dari pada syirik dan munafik.”
(Surah al-Syura, ayat 88 – 89)

Sucikanlah 4 hal dengan 4 perkara :

- Wajahmu dengan linangan air mata keinsafan

- Lidahmu basah dengan berzikir kepada Penciptamu,
- Hatimu takut dan gementar kepada kehebatan Rabbmu, dan
- Dosa-dosa yang silam di sulami dengan taubat kepada Dzat yang Memiliki mu.

”Semoga bermanfaat, InsyaAllah…

Balikpapan kota beriman, 4 Dulqo'dah 1435 H

SEBAB MAAF TAK HANYA SEKALI

..........

Susah sesakali mengawali tulisan ini
Meskipun "bismillah" sudah terucapkan dalam hatiku...

Terpaan kata2 itu tanpa sadar membuat air mata ini berlinang tanpa sadar...
Sungguh bahaya lisan amat sangat terasa sekali, jika hati ini sudah terikat cinta dengan pemilik hati (Alloh)

Masih ingat cerita tentang julaibib yg pernah saya tulis sebelumnya...

Begitupula dengan sebuah hadist rosululloh salallahualaihi wassalam yg memerintahkan kita untuk mudah memaafkan...

Dari jabir bin sulaim
"Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui ada padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya.” 

(HR. Abu Daud no. 4084 dan Tirmidzi no. 2722. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Al Hafizh Ibnu Hajar menyatakan bahwa hadits ini shahih).

Kisah kemaksiatan yg dulu pernah saya lakukan...
Mudah mudahan ini adalah balasan dari kemaksiatan2 yg dulu pernah kulakukan dan ini adalah balasan dari alloh di dunia...
Semoga di akhirat kelak Alloh sudah memberi maghfirohnya kepadaku lantaran sudah mendapatkan hukuman di dunia....

Memang benar kata ulama memaafkan orang lain lebih mudah daripada memaafkan diri sendiri...

Andaikan orang lain bersalah mudah bagi kita untuk memaafkan...

Namun andaikan kita berbuat salah dan tentunya kesalahan itu adalah dosa kita terhadap alloh, siapa yg mampu menjamin bahwa alloh sudah memberi maaf kepada kita...

Allahuakbar.....

Sekiranya dosa2 ini mempunyai bau niscaya tidak ada satu orangpun yg mau mendekat denganku lantaran bau ini akan mengganggunya...

Andaikan di runut sungguh dosa2 kita setiap hari bertambah sedangkan usia kita semakin berkurang....

Susah menulis kata2 saat ini
Entah perasaan campur baur ini menjadi satu

Di sore hari 16.41 WITA
Malam Ahad di balikpapan kaltim
Tepat kalender menunjukkan angka
4 Dzulqo'dah 1435 H

Al faaqir fawaz

Jumat, 29 Agustus 2014

KADZABTA

Entah kenapa kisah ini membuatku sangat takut......

ketika seorang hamba berdialog di hadapan Rabbnya di hari kiamat tentang amal amalnya..

Maka yang pertama di datangkan adalah seorang laki-laki yang mati syahid dan ia adalah orang pertama dari tiga orang yang akan di adili. ia dihadapkan, ia mengetahui segala nikmat yg diberikan padanya,ia mengakuinya.

Allah bertanya : " apa yang telah kau perbuat dengan nikmat itu?
" ia menjawab : "aku berjihad di jalanmu hingga aku mati syahid"
Allah pun membantahnya :
" KADZABTA, kamu bohong, kamu berjihad hanya agar namamu disebut bahwa si fulan seorang pemberani, dan kini kau sudah di sebut demikian.
Maka diperintahkan agar diseret wajahnya hingga ia terlempar ke dalam neraka.

Kemudian di datangkan seorang yang mempelajari ilmu serta membaca Al qur'an. ia dihadapkan, ia mengetahui segala nikmat yg diberikan padanya, dn ia pun mengakuinya. maka Allah bertanya : "apa yang kau perbuat dengan nikmat tersebut?

"hamba itu menjawab: " aku mempelajari ilmu, membaca al qur'an, dan mengajarkanya karenaMU.

"Allah berkata : "KADZABTA, kamu bohong, kamu melakukan itu semua agar dikatakan si fulan itu 'aalim, dan engkau membaca qur'an agar dikira si fulan qoori'. maka sungguh engkau telah dikatakan demikian.

Makaa,diperintahkan agar diseret di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.

Kemudian didatangkan seseorang yang Allah beri dia berbagai macam harta. maka ia dihadapkan, ia mengetahui segala nikmat yg Allah berikan padanya.Allah bertanya :
"apa yang telah kau perbuat dengan nikmat tersebut?

"hamba tadi menjawab : " aku tidak meninggalkan sesuatu apapun yg engkau cintai melainkan aku infaqkan hal itu karenaMU"

"KADZABTA,engkau berbohong" kata Allah.

"engkau melakukan hal itu hanya ingin disebut2 si fulan adalah seorang dermawa, dan sungguh telah dikatakan demikian"
maka diperintahkan agar diseret wjahnya hingga ia terlempar ke dalam neraka.

Afwan, ana ndak bisa komentar. kisah ini di tulis oleh abu abdillah Muhammad bin sa'id bin ruslan dalam kitab beliau

"adaabul thoolibil 'ilmi'' pada bab "ikhlashun niyyati lillahi fi tholabil 'ilm" kisah ini shohih diriwayatkan oleh Muslim dalam shohihnya dari abu hurairah Radhiyallahu'anhu.

setelah ini, masihkah kita berbangga diri? setelah pada akhirnya kita tau trnyata amal yg kita bangga2kan selama ini dianggap kebohongan oleh Allah??

Islam tak memandang rupa

Jika kalian mencari teman yg sempurna maka akupun akan menjauh karna aku bukan manusia yg sempurna....
Jika kalian mencari saudara yg berharta jangan dekati aku, karna aku tak akan bisa memberikan apa apa kecuali hanya sedikit saja harta yg ku punya....
Dan jika kalian mencari yg dekat dengan Alloh mudah mudahan aku tidak mengecewakanmu....

Karena islam,tidak memandang rupa seseorang...
Hanya ada pada islam...
Seseorang yang memiliki masa lalu kelam,fisik yang cacat, dn rendah di hadapan manusia, bisa menjadi jendral penghuni rumah di surga.

----> Adalah seseorang yang dahulu memerangi nabi,membencinya,bahkan berusaha sekuat tenaga untuk membunuh nabi, yang berperan besar dalam mengalahkan pasukan kaum muslimin di perang uhud dengan pasukan berkudanya.
Namun tatkala telah masuk islam, baik islamnya, maka ia pun mendapat gelar ‘’saifullah al maslul’’ pedang Allah yang terhunus.
Inilah dia Khalid bin Walid Radhiyallahu’anhu.

----> Seseorang, yang dahulunya sangat keras terhadap sosok yang bernama Muhammad, sangat membencinya, Namun tatkala mendengar lantunan ayat al qur’an, bercucuranlah air matanya membasahi pipinya karena menangis.
Dan dengan itu ia masuk ke dalam islam,baik islamnya sehingga ia pun mendapatkan gelar ‘’al faruq’’ yaitu orang yang mampu membedakan antara yang haq dengan yang bathil, bahkan kini makamnya bersanding dengan makam Rasulullah.
Inilah dia Umar ibnul Khaththab Radhiyallahu’anhu

-----> Dia hanyalah seorang budak berkulit hitam, seorang yang rendah kedudukanya di mata manusia hanya karena ia budak dan kulitnya yang hitam.
Salah satu di antara para sahabat yang berat ujianya tatkala hendak memeluk al hanifiyyah Namun, tatkala ia berhasil selamat dari penyiksaan tiada henti oleh tuanya umayyah, dan berhijrah kepada islam, ternyata masa lalunya sebagai budak tidak membuatnya menjadi orang rendah di islam.
Justru dialah orang pertama kali yang menaiki ka’bah dan mengumandangkan seruan Allah ke seluruh penjuru mekkah saat itu. 
Dia juga yang Rasulullah katakan
:فاني سمعت دف نعليك بين يدي في الجن

 (maka sungguh aku telah mendengar suara kedua terompahmu di surga)
Inilah dia Bilal bin Rabbah, si budak berkulit hitam sekaligus muadzin Rasulullah. 

-----> Kulitnya hitam, kedua matanya pun buta, namun kekurangan itu tidak membuatnya hina di hadapan Allah. Walaupun begitu, ternyata ia menjabat sebagai tukang adzan Rasulullah. Bahkan karena dia,  Allah ta’ala menegur Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dengan menurunkan surat ‘abasa. Sehingga tatkala berjumpa dengan nabi,nabi pun mengucapkan

:اهلا بمن فيه عاتبني ربي

(selamat datang terhadap orang yang denganya Rabbku mencaciku)
Namun justru kenyataan berbalik seratus delapan puluh derajat. inilah dia abdullah bin umi maktum.

Namun,justru al haarits, yg memiliki jabatan tinggi,dengan kesombonganya tidak sujud kepada Adam, Allah memanggilnya Iblis,dan menjadikan penghuni neraka.

Justru fir'aun,yg memiliki segala kekayaan dn harta,hingga berkata ''ana robbukumul a'la'' Allah seret dia ke jahannam bersama pengikutnya.

Cacat,tidak mengurangi derajat di hadapan Allah. Masa lalu yg kelam, bukan berarti ia orang yg buruk di akhir hidupnya.Rendah di mata manusia, bukan berarti rendah di hadapan Allah.

Setiap manusia, siapapun dia, bagaimanapun kedudukanya, keadaanya, masa lalunya, ia tetap berhak untuk mendapat ketinggian derajat di hadapan Allah.

Maka, janganlah keadaan anda menghalangi anda untuk menjadi hamba2 Allah yg shoolih.

Karena islam, tidak memandang rupa.
Tetapi ''at taqwa ha huna'' taqwa itu disini, nabi mengisyaratkan ke dadanya 3x.

Al faaqir ila maghfiroti robbih zakariya rizky

Terimakasih banyak wahai musuh musuhku

TERIMA KASIH BANYAK WAHAI MUSUH-MUSUHKU

Seorang da'i berkata :
Apakah yang harus aku katakan kepada kalian wahai musuh-musuhku…
Sungguh rasa gembira yang keluar dari lubuk hatiku yang paling dalam…
Kalian telah benar-benar membantuku di dunia dan terlebih-lebih di akhirat…
Di akhirat kelak…
kalian akan memikul banyak bebanku yang berat…
padahal kalian sendiri benar-benar dalam keadaan lemah…
sungguh ini merupakan kebaikan yang tiada bandingannya…
Kalian telah menghadiahkan kepadaku pahala-pahala amal kebajikan kalian kepadaku, di saat kalian benar-benar sangat membutuhkannya….
sungguh kebaikan yang tiada tara…
Wahai kalian yang menggibahku…
yang memakan hartaku…
yang merendahkan harga diriku…
yang berdusta atas namaku…
yang hobi mencari-cari kesalahanku…
sungguh kalian telah berbuat kebaikan yang tiada tara bagiku…,
teruskanlah perjuangan kalian menzolimiku…
sungguh aku sangat butuh dengan hadiah kalian pada hari kiamat kelak…
Aku sangat butuh –pemberian- kalian untuk memperberat timbangan kebaikanku…
Sungguh betapa bahagianya aku tatkala aku tahu bahwasanya aku tidak bisa meraih tempat yang sangat mulia hanya sekedar mengandalkan amal kebajikanku?,
Akan tetapi berkat hadiah kalian akupun bisa meraih kedudukan mulia tersebut….
karenanya jangan ragu-ragu untuk meneruskan perjuangan kalian menjatuhkan aku…!!!

Rasulullah bersabda

,أَتَدْرُوْنَ مَا الْمُفْلِسُ؟ قَالُوْا الْمُفْلِسُ فِيْنَا مَنْ لاَ دِرْهَمَ لَهُ وَلاَ مَتَاعَ فَقَالَ إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلاَةٍ وَصِيَامٍ وَزَكاَةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي النَّارِ“

Tahukah kalian apa yang disebut dengan orang yang bangkrut?
”, mereka (para sahabat) berkata, “Orang bangkrut yang ada diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki barang dagangan”.
Rasulullah berkata, “Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa amalan sholat, puasa, dan zakat.
Dia datang dan telah mencela si fulan, telah menuduh si fulan (dengan tuduhan yang tidak benar), telah memakan harta si fulan, telah menumpahkan darah si fulan, dan telah memukul si fulan.
Maka diambillah kebaikan-kebaikannya dan diberikan kepada si fulan dan si fulan.
Jika kebaikan-kebaikannya telah habis sebelum cukup untuk menebus kesalahan-kesalahannya maka diambillah kesalahan-kesalahan mereka (yang telah ia dzolimi) kemudian dipikulkan kepadanya lalu iapun dilemparkan ke neraka”
(HR Muslim no 2581)

Dikatakan kepada Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah bahwasanya si fulan telah mengghibahmu.
Maka beliaupun mengirim sepiring makanan yang manis kepada orang yang telah mengghibahnya tersebut lalu berkata kepadanya,
“Telah sampai kabar kepadaku bahwasanya engkau telah menghadiahkan (pahala) kebaikan-kebaikanmu kepadaku maka aku ingin membalas kebaikanmu tersebut”

(Wafayaatul A’yaan 2/71)
Seorang penyair berkata

:يُشَارِكُ لَكَ الْمُغْتَابُ فِي حَسَنَاتِهِ وَيُعْطِيْكَ أَجْرَ صَوْمِهِ وَصَلاَتِهِفَكَافِهِ بِالْحُسْنَى وَقُلْ رَبِّ جَازِهِ بِخَبْرٍ وَكَفِّرْ عَنْهُ سَيِّئَاتِهِفَيَا أَيُّهَا الْمُغْتَابُ زِدْنِي فَإِنْ بَقِيَ ثَوَابُ صَلاَةٍ أَوْ زَكاَةٍ فَهَاتِه

ِOrang yang mengghibahmu menyertakan engkau dalam kepemilikan kebaikan-kebaikannya
Dan ia menghadiahkan kepadamu pahala puasa dan sholatnyaMaka hendaklah engkau membalasnya dengan kebaikan dan katakanlah,

“Wahai Tuhanku balaslah dia dengan kebaikan dan hapuslah dosa-dosanya”
Wahai orang yang menggibahku tambahlah hadiahmu kepadaku…

Jika masih tersisa pahala solatmu dan zakatmu maka berikanlah kepadaku.

Ustadz Firanda Andirja, Lc MA

TERIMA KASIH BANYAK WAHAI MUSUH-MUSUHKU


Kamis, 28 Agustus 2014

Jangan bersedih istriku

Beberapa tahun kemudian,

suatu saat, sang istri berkata kepada suaminya,
"(Sayank), teman-teman kuliahku dulu sekarang sudah pakaian dinas!"

Istri mulai menampakkan wajah kekecewaan karena putus kuliah. Namun, suaminya menimpali,

"(Sayank), kamu sudah ditimpa penyakit al-wahn!"

"Apa itu wahn?""Cinta dunia dan takut mati!" ungkap suaminya.
Maka mulailah sang istri merasa lega atas jawaban ini.
Ia kembali 'menghidupkan' dirinya agar pecaya diri.
Dan tidak iri dengan masalah dunia.
Karena profesinya sekarang jauh lebih mulia: istri.

***Saudaraku, seringkali manusia iri terhadap manusia lainnya hanya karena persoalan mikro. Mereka iri karena profesi, harta, dll.
Sesungguhnya, ini adalah racun kehidupan.

Jauh lebih baik seseorang itu mensyukuri statusnya saat ini.
Ia qonaah terhadap hidupnya. Apalagi jika ia telah dikaruniakan nikmat beragama Islam,
maka hendaklah ia ridho terhadap keputusan Alloh subhanahu wa ta'ala.Janganlah kita minder jika orang lain sudah sukses, karena sesungguhnya kemuliaan di sisi Alloh bukan dengan barometer ini.
Namun, ketakwaan di sisi Allohlah menjadi sebab kemuliaan seseorang.
Jika ada seorang istri yang saat ini 'hanya' ibu rumah tangga.
Maka, ketahuilah, Alloh telah menjadikanmu sebagai pendidik bagi calon ulama yang engkau lahirkan.
Anak-anakmu akan menjadi ulama jika kamu mendidiknya di rumah dengan edukasi sesuai sunnah Rosululloh shollallohu alayhi wasallam.

Ingat kisah masa kecil Imam Malik?
Suatu saat sebelum beliau berangkat menuntut ilmu, maka ibunya menahannya. Bukan untuk melarang. Namun, ibunya memakaikannya imamah (sorban), lalu berkata,
"Nak, pelajarilah adab gurumu sebelum kamu mempelajari ilmunya."

Kini, siapa yang tidak mengenal Imam Malik rohimahulloh?
Ulama besar, kemuliaannya sangat agung.
Siapa orang di balik kesuksesan Imam Malik?

Ibunya....

Hanya ibu rumah tangga.

Sekarang, mari kita tanya para wanita 'karir', sudahkah engkau mendidik anak-anakmu untuk mempelajari adab?
Sudahkan engkau mendidik anakmu untuk mendekat dengan para ulama?
Atau lantaran kamu sibuk dengan profesi, akhirnya semua anak menjadi pecandu dunia?

Wallohul musta'an.
Betul apa yang pernah dituturkan oleh seorang ibu,
"Mendidik anak itu lebih berat daripada memperbaiki Mobil Tank!"
Karena itulah, sangat disayangkan bila iri dengan masalah dunia dan jangan sampai terulang kembali perkataan,
"Teman-temanku sudah dinas!"
Sibukkanlah diri dengan ilmu agama, amalkan, jauhi penyakit "al-wahn",
niscaya itu jalan menuju surga.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, 
“Barang siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka dia akan dipahamkan dalam urusan agamanya. ” 
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
“Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menimba ilmu –agama- maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga.” 
(HR. Muslim)

Semoga Alloh subhanahu wa ta'ala memberi taufik kepada kita semua....

Untukmu wahai ukhty muslimah

Untukmu ukhti muslimah…

kemana akan kau bawa dirimu?
kepada gemerlapnya dunia?
gemilaunya harta?
atau pada ketampanan seorang pria?
walaupun kau harus membuka hijabmu demi mendapat semua yang kau inginkan,maka kehinaan yang kau dapatkan!
Wahai Saudari Muslimah, siapakah yang munyuruhmu untuk berhijab?

Untukmu ukhti muslimah…

kemana akan kau bawa dirimu?
kepada kemuliaan jiwa?
kepada keridhaan sang pencipta?
atau mulianya menjadi bidadari surga?
walaupun hinaan dan cacian yang harus kau terima demi menjaga hijab yang telah disyariatkan oleh agama, maka kebahagiaan yang akan kau dapatkan!

Katakan TIDAK pada gemerlapnya dunia!
jika hijabmu harus terlepas karenanya katakan TIDAK pada kemilaunya harta!
jika hijabmu harus menjadi tebusannya
karena hijabmu,adalah benteng kemuliaan dirimu bahwasannya yang menyuruhmu untuk berjilbab yang menyuruhmu untuk berbusana muslimah yang menyuruhmu ialah Allah dan Rasul-NYa dan konsekwensi kita sebagai seorang muslim maupun muslimah wajib untuk taat pada Allah Ta’ala
karena Allah yang menciptakan kita Allah yang memberikan rizki pada kitaAllah yang memberikan segalanya kepada kita Al-Qur’an menyuruh kita untuk berhijab Allah yang menciptakan kita yang menyuruh kita untuk berjilbab!

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang” (QS.al-Ahzab:59)
Jika seandainya manusia (wanita muslimah) tidak berbusana Muslimah, tidak berjilbab, maka manusia ini akan rusak dan hancur, akan binasa.
”Setiap wanita, TIDAK ADA UDZUR (tidak ada alasan) untuk tidak memakai busana muslimah."

Minggu, 24 Agustus 2014

Ku juluki engkau malaikat subuh

Tok tok tok.....

Siapakah gerangan yang senantiasa mengetuk pintu itu.....

Dengan suara lirih....

Tak terasa tepat arah jarum jam yang berhenti melintas di arah 05.32 wita

Adakalanya sedikit terasa terharu melihat saudaraku yg lelah dalam penatnya....

Yang letih dengan kesibukannya...

Andaikata ku jumpainya disaat adzan subuh mulai menerawang masuk kedalam pintu pintu hidayah tentu semangatku akan beribadah kepadaNya semakin bertambah....

Andai kata ku jumpainya disaat malam mulai jatuh di waktu sepertiganya...

Tentu betapa bahagianya hati ini berkawan dengan hidayah.....

Engkau yang tak pernah lelah untuk melihatnya lelap...
Terbesit dalam benakku untuk menggandengnya berjalan meskipun dia lebih kuat...
Ingin mengajaknya berlari meskipun dia lebih sempurnah...
Tp kesadaranku mulai muncul

Ternyata perjalanan paling jauh bukanlah ke luar negri...
Perjalanan paling berat adalah bukanlah saat  mendaki...
Atau perjalanan tersulit bukanlah yg jalannya rumit...

Tp adalah pergi ke masjid....

Meskipun banyak orang pandai bahkan pintar sekalipun mereka sering tersesat untuk pergi ke masjid....

Tp akupun juga mulai tersadar hadist nabi melalui  Abu Darda’ radhiyallahu'anhu

Suatu ketika melewati seorang yang terkadang jatuh ke dalam perbuatan dosa dan ia tengah dicela oleh orang-orang di sekitarnya. Abu Darda’ pun berkata, “Apa pendapat kalian seandainya ia terjatuh ke dalam sumur, bukankah kalian akan mengeluarkannya? Maka janganlah mencela saudara kalian, tapi pujilah Allah yang telah menjaga diri kalian”.

Semoga yg singkat ini untuk pengingat yg menulis sebelum yang membaca

Sabtu, 23 Agustus 2014

Karna pena pun juga akan bersaksi

Sepertinya aku ingin sekali mengungkapkan perasaan ku lewat sebuah tulisan....
Goresan pena usang yang akan menemaniku melalui hari hari ini....

Ingin juga ku lewati detik demi detik ini dengan keyboard2 komputer...
Atau mulai bercengkrama dengan jari2 yg senantiasa merekat elat di badan handphone....

Meskipun hanya sekedar mengisi blog...
Atau sejenak melihat ada apa dengan facebook...

Inilah saatnya insan manusia berada dalam saat yg begitu indah...
Disaat berusaha menjaga hati dengan segala godaan syaitan yg mulai menyelip nyelip melewati rangkaian komponen handphone....

Saat saling menjaga kesucian demi mendapatkan Ridho dari sang kholiq...
Demi mengharap sebuah keindahan yg telah dijanjikan dalam catatan ayat2 suci Al Qur'an...

Inilah dimana jarak memisahkan bukan untuk menghukum tapi untuk menjaga....

Inilah dimana awal dari sebuah bangunan yg kokoh akan di bangun diatas pondasi2 aturanNya...

Inilah masa penantian masa menjaga hati untuk mendapatkan sebuah keridhoan ilahi, masa yg akan indah bila melewatinya dengan aturan yang syar'i....

Keindahan saat ini belum bisa kurasakan...
Karna kelak pena dan keyboard2 inipun akan menjadi saksi...

Semoga alloh menjaga hati kita

U/bwi

Fawwaz
28 Syawal 1435 H

Akhwat sejati

AKHWAT SEJATI....???

Seorang akhwat sejati bukanlah dilihat dari kecantikan paras wajahnya, tetapi dilihat dari kecantikan hati yang ada di baliknya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari bentuk tubuhnya yang mempesona, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menutupi bentuk tubuhnya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari begitu banyaknya kebaikan yang ia berikan tetapi dari, keikhlasan ia memberikan kebaikan itu.

Akhwat sejati bukan dilihat dari seberapa indah lantunan suaranya, tetapi dilihat dari apa yang sering mulutnya bicarakan.

Akhwat sejati bukan dilihat dari keahliannya berbahasa, tetapi dilihat dari bagaimana caranya ia berbicara.

Akhwat sejati bukan dilihat dari keberaniannya dalam berpakaian tetapi dilihat dari sejauh mana ia berani mempertahankan kehormatannya.

Akhwat sejati bukan dilihat dari kekhawatirannya digoda orang di jalan, tetapi dilihat dari kekhawatiran dirinyalah yang mengundang orang jadi tergoda.

Akhwat sejati bukanlah dilihat dari seberapa banyak dan besarnya ujian yang ia jalani, tetapi dilihat dari sejauh mana ia menghadapi ujian itu dengan penuh rasa syukur.

Dan ingatlah…

Akhwat sejati bukan dilihat dari sifat supelnya dalam bergaul, tetapi dilihat dari sejauh mana ia bisa menjaga kehormatan dirinya dalam bergaul.

Faidah nasihat dari Ustadz Abu Ikhwan Ta'aruf  -hafidzahullah

(Dewan Pembina di Konsultasi Syariah)

SALAFY

Perbedaan Salafy dan Kelompok-kelompok Lain

Sebagian orang menyangka bahwa salafi sama dengan kelompok-kelompok lain seperti;

- Muhammadiyah
- Nahdhatul Ulama (NU)
- Ikhwanul muslimin (IM)
- Hizbut Tahrir (HT)
- Jamaah Tabligh (JT)
- Dan lain-lain

Untuk menjawabnya, saya mencoba semampu saya dan sesuai pengalaman yang pernah saya alami.
Mungkin ada yang tersinggung dengan jawaban ini dan tidak setuju, dan memiliki pandangan lain, maka itu hak masing-masing.

Salafy, ada juga yang menyebut wahabi, bukanlah kelompok atau firqah atau golongan dan tidak sama dengan kelompok-kelompok itu semua dilihat dari beberapa sisi pokok, antara lain;

Pertama: Salafy bukanlah firqah atau kelompok, bukan pula organisasi.
Salafy adalah nisbah kepada pengikut salaf sholeh.
Siapa saja yang mengikuti cara beragamanya para salafus sholeh, maka layak baginya disebut salafy, walaupun dia tidak tahu bahwa dirinya seorang salafy atau orang lain tidak menganggapnya seorang salafy, tetapi hakekatnya dia seorang salafy. 

Sejauh pengetahuan saya, ciri salafy ini misalnya;

Secara lahiriah menampakkan sunnah seperti memanjangkan jenggot dan bercelana di atas mata kaki bagi laki-laki dan berhijab dengan hijab besar bagi wanita bahkan kebanyakan wanitanya bercadar atau berniqob.

Beribadah sesuai dengan sunnah nabi, walau kadang secara muamalah masih kurang bergaul dan membaur dengan masyarakat, dan ini sifatnya person dan tidak semuanya.

Yang benar seharusnya tetap bergaul dengan masyarakat dengan baik, bahkan terdepan dalam bermuamalah dengan kaum muslimin sebagai hikmah atas ilmu yang dimilikinya.

Kedua: Karena bukan sebuah firqah ataupun organisasi, maka salafy tidak memiliki bai’at, aturan organisasi, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga serta aturan-aturan tanzim lainnya yang mengharuskan pengikutnya taat pada aturan itu.

Aturan yang ada pada Salafy adalah apa-apa yang ada dalam al-quran dan hadist nabi, sehingga aturan yang berlaku dalam salafy ini berupa ;

Tauhid yang berarti wajib diyakini, dan syirik yang wajib dijauhi, Sunnah nabi yang diambil,  dan bid’ah yang dibuang dan tidak diamalkan,

Halal yang diambil, dan haram yang dibuang, Serta petunjuk-petunjuk lain yang diajarkan para salafus sholeh.

Demikianlah aturan yang ada pada salafi, sehingga mereka wala dan bara’ nya kepada syariat, bukan kepada kelompok atau organisasinya.

Ketiga: Salafy bersaudara dengan semua muslim, dan tidak melihat kepada golongan dan kelompok.
Kecintaan mereka dibangun di atas dasar persaudaraan islam dan aqidah, bukan persaudaraan semu/sementara sesama kelompok dan golongannya.

Hal ini mungkin berbeda dengan kelompok lain di mana mereka saling mencintai dengan kecintaan tinggi jika sesama golongannya, dan bersikap sekedarnya jika tidak dengan yang segolongan.

Keempat: Salafy tidak memiliki pemimpin, pemimpin tertinggi, sekjen, juru bicara, dewan syuro, majlis syuro, amir, khalifah, dan lain-lainnya.
Hal ini berbeda dengan kelompok selain salafy, di mana mereka memiliki pemimpin yang wajib dihormati dan dibela, bahkan jika pemimpin tersebut salah sekalipun, maka tetap wajib dibela.

Ini bentuk ghuluw atau sikap berlebihan terhadap seseorang yang terlarang dalam agama.

Saya sempat tersenyum ketika ada sekelompok orang yang mengatakan bahwa pemimpin gerakan salafy adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, ada pula yang mengatakan pemimpinnya adalah Syaikh Bin Baz, kemudian Syaikh Al-Albani.

Tidak..

Beliau bukan pemimpin Salafy, kapan beliau diangkat jadi pemimpin Salafy??

Kapan pula berhenti dan diganti yang lain???

Memang salafy mempunyai pemimpin yang selalu kami bela dan selalu kami benarkan, yakni Rasulullah Muhammad shallallohu’alaihiwasallam.

Demikianlah perbedaan antara salafy dan kelompok lain.
Adapun turunan perbedaan yang lebih detail sebagai konsekuensi perbedaan di atas lebih banyak lagi.

Akan tetapi perbedaan itu bukanlah hal yang seharusnya dibesarkan, karena hal itu akan membuat lemah barisan kaum muslimin.

Sudah saatnya kaum muslimin bersatu di bawah panji tauhid, menghilangkan sekat kelompok dan golongannya, menjauhi sikap ta'ashub dan berbangga dengan kelompok dan golongannya, karena Islam tidak akan pernah jaya jika umatnya saling berpecah belah, berkelompok-kelompok dan saling membanggakan kelompoknya

.وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعاً كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ“

Janganlah kamu seperti orang-orang musyrik, yaitu mereka mencerai beraikan agamanya dan bergolong-golongan.

Setiap golongan membanggakan apa yg ada pada mereka.

” (QS. Ar-Ruum: 31-32)

Semoga bermanfaat.

Artikel Ustadz Abu Ikhwan Ta'aruf

(Dewan Pembina di Konsultasi Syariah)

MAUKAH UKHTY JADI PACAR SAYA....

"MAUKAH UKHTY JADI PACAR SAYA?"

LELAKI : Assalamualaikum Ukhty...
WANITA : Waalaikumusallam Akhy.

LELAKI : Bagaimanakah kabar Ukhty hari ini?
WANITA : Alhamdulillah baik.

LELAKI : By the way, boleh tanya nggak nih?
WANITA : Tentu boleh. Silahkan mau tanya apa?

LELAKI : Ukhty kok cantik banget sih? Emang udah ada yang punya belum nih?
WANITA : Alhamdulillah. Saya sudah milik Allah. Milik Ibu dan Bapak juga.

LELAKI : Hmmm, maksud saya bukan itu Ukhty.
WANITA : Oh bukan ya. Emang apa maksud Akhy?

LELAKI : Langsung aja deh. Ukhty udah punya PACAR belum?
WANITA : Alhamdulillah belum.

LELAKI : Syukurlah kalau gitu. Hmm, berarti saya masih punya kesempatan dan peluang dong.
WANITA : Maksud Akhy???

LELAKI : Mau nggak Ukhty jadi pacar saya?
WANITA : Boleh. Saya mau saja lah.

LELAKI : Hehe.. Alhamdulillah, akhirnya...!!!
WANITA : Tapi ada syaratnya lho Akhy.

LELAKI : Hmm gitu ya. Emang apa aja syaratnya Ukhty?
WANITA : Pertama: Akhy harus taat Agama. 
Kedua: Akhy nggak boleh dekat-dekat dengan saya dengan cara tdk hubungi saya lewat tlp, sms ataupun media sosial seperti fb, twitter, instagram, de el el apalagi inbox ataupun berkomentar di dalam postingan fb, twitter, instagram, de el el saya kecuali setelah akad nikah. 
Ketiga: Akhy nggak boleh nyentuh saya walau seujung rambutpun.
Keempat: Akhy nggak boleh ajak saya jalan keluar kalau akhy mau ajak keluar akhy bisa ajak keluarga saya seperti ayah, kakak atau adik laki laki saya (silahkan pilih salah satu yang akhy mau ajak jalan). 
Kelima:kalau kita mau ketemuan, di rumah saya saja.. insya allah akhy bisa ngobrol dengan abi/ayah/bapak atau kakak laki laki saya mengenai karakter saya. Insya Allah Ibu dan Bapak atau kakak/saudara laki laki saya pasti akan mewakili saya menemui akhy jika akhy datang ke rumah saya.

LELAKI : Haaah??? Saya harus penuhi syarat itu semua?? Nggak boleh nawar ya Ukhty?
WANITA : Insya Allah itu harga mati dari saya!!!. Dan nggak bisa ditawar-tawar lagi.
Gimana??? Akhy sanggup???

LELAKI : (Cuma melongo seakan nggak percaya. Sesaat kemudian dia pamit pergi)
WANITA : Dia tersenyum.

Andai saja banyak wanita yang bisa bersikap seperti itu........??

Tapi ana yakin masih banyak wanita yang mampu bersikap seperti diatas.

Dan salah satunya adalah sahabat Fillah yang membaca Artikel ini. Benar kan..???...

IKHWAN SEJATI

IKHWAN SEJATI....??

Jika memang engkau Ikhwan sejati...

Jangan pernah engkau tebarkan pesonamu hanya untuk mencuri hati...
Jangan engkau berkata-kata mulia jika hanya untuk menarik simpati...
Jangan curahkan rasa dan cintamu kepada orang yang belum tentu akan engkau nikahi....
Karena sungguh semua itu akan menyakiti...
Yang ada hanya harapan yang tak akan berujung arti...

Jika Memang Engkau Ikhwan Sejati....

Jangan berikan harapan kepada orang yang belum tentu engkau nikahi.
Tahukan engkau apa Yang mereka rasakan, penyesalan yang amat sangat, atas sebuah hijab yang tersingkap
Ketika lelaki yang tak halal baginya, bergelayut dalam alam fikirannya, yang mereka rasakan adalah ketakutan yang begitu besarakan cinta yang tak suci lagi

Jika Memang Engkau Ikhwan Sejati

Tak akan mau membuat kekhawatiran yang amat sangat kepada Akhwat yang engkau cintai, yang resah akan hati yang mulai merindukan lelaki yang belum halal atau bahkan tak akan pernah halal baginya…

Ketika mereka jatuh cinta, maka perhatikanlah, kegelisahan di hatinya yang tak mampu lagi memberikan ketenangan di wajahnya yang dulu teduh
Mereka akan terus berusaha mematikan rasa itu bagaimanapun caranya
Bahkan kendati dia harus menghilang, maka itu pun akan mereka lakukan
Alangka kasihannya jika engaku berhasil mencuri hati
Karena yang ada adalah penderitaan

Jika Memang Engkau Ikhwan Sejati

Jadilah Pahlawan bagi mereka agar mampu menjaga Cinta Suci Illahi dengan menyandang status Suami
Datangi mereka dengan cinta dan ikatan nan suci
Atau engkau harus selalu menjaga hati tak akan mengucapkan kata cinta atau pun tebar pesona

Jangan bilang cinta kalo kita masih setengah hati mencintai

Jangan pernah ucapkan kata cinta

jika kita masih tak bisa memberikan pengorbanan terbesar dalam hidup kita demi yang kita cintai

Jika Memang Engkau Ikhwan Sejati

Janganlah menyakiti
Janganlah menanam harapan-harapan yg tak berujung arti
Jangan engkau mengaku cinta sebelum menyelami

Mari taarufan dan khitbah dengan niat yang lurus karna allah jangan jadikan ajang coba coba/pelarian/keisengan berani berbuat berani bertanggung jawab komitmen sedari awal berilmu sebelum beramal agar tak ada jiwa yang tersakiti kunci utamanya...

Jika engkau ikhwan sejati....


*ikhwan = laki laki

Siapakah salafy

Mengenal Salaf dan Salafi

Para pembaca yang budiman -semoga Allah menunjuki kita kepada kebenaran-. Salaf dan salafi mungkin merupakan kata yang masih asing bagi sebagian orang atau kalau toh sudah dikenal namun masih banyak yang beranggapan bahwa istilah ini adalah sebutan bagi suatu kelompok baru dalam Islam.

Lalu apa itu sebenarnya salaf?

Dan apa itu salafi?

Semoga tulisan berikut ini dapat memberikan jawabannya.

Pengertian SalafSalaf secara bahasa berarti orang yang terdahulu, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah yang artinya,

“Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut).
Dan Kami jadikan mereka sebagai SALAF dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.
” (QS. Az Zukhruf: 55-56),

yakni kami menjadikan mereka sebagai SALAF -yaitu orang yang terdahulu- agar orang-orang sesudah mereka dapat mengambil pelajaran dari mereka (salaf).

Oleh karena itu, Fairuz Abadi dalam Al Qomus Al Muhith mengatakan, “Salaf juga berarti orang-orang yang mendahului kamu dari nenek moyang dan orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan denganmu.
”(Lihat Al Manhajus Salaf ‘inda Syaikh al-Albani, ‘Amr Abdul Mun’im Salim dan Al Wajiz fii Aqidah Salafish Sholih, Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsary)

Kata ‘Salaf’ Tidaklah Asing di Kalangan Ulama Mungkin banyak orang saat ini yang merasa asing dengan kata salaf, namun kata ini tidaklah asing di kalangan ulama.

Imam Bukhari -ahli hadits terkemuka- menuturkan, “Rasyid bin Sa’ad mengatakan, ‘Dulu para SALAF menyukai kuda jantan, karena kuda seperti itu lebih tangkas dan lebih kuat’.

” Kemudian Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa salaf tersebut adalah para sahabat dan orang setelah mereka.

Imam Nawawi -ulama besar madzhab Syafi’i- mengatakan dalam kitab beliau Al Adzkar,
“Sangat bagus sekali doa para SALAF sebagaimana dikatakan Al Auza’i rahimahullah Ta’ala, ‘Orang-orang keluar untuk melaksanakan shalat istisqo’ (minta hujan), kemudian berdirilah Bilal bin Sa’ad, dia memuji Allah …’.

” Salaf yang dimaksudkan oleh Al Auza’i di sini adalah Bilal bin Sa’ad, dan Bilal adalah seorang tabi’in. (Lihat Al Manhajus Salaf ‘inda Syaikh al-Albani)

Siapakah Salaf?

Salaf menurut para ulama adalah SAHABAT, TABI'IN (orang-orang yang mengikuti sahabat) dan TABI'UT TABI'IN (orang-orang yang mengikuti tabi’in).

Tiga generasi awal inilah yang disebut dengan salafush sholih (orang-orang terdahulu yang sholih).

Merekalah tiga generasi utama dan terbaik dari umat ini, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim, Bukhari dan Tirmidzi).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempersaksikan ‘kebaikan’ tiga generasi awal umat ini yang menunjukkan akan keutamaan dan kemuliaan mereka, semangat mereka dalam melakukan kebaikan, luasnya ilmu mereka tentang syari’at Allah, semangat mereka berpegang teguh pada sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. 
(Lihat Al Wajiz fii Aqidah Salafish Sholih dan Mu’taqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Dr. Muhammad Kholifah At Tamimi)

Wajib Mengikuti Jalan Salafush Sholih Setelah kita mengetahui bahwa salaf adalah generasi terbaik umat ini, maka apakah kita wajib mengikuti jalan hidup salaf?

Allah telah meridhai secara mutlak para salaf dari kaum muhajirin dan anshor serta kepada orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ta’ala berfirman yang artinya,

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. 

Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100).

Untuk mendapatkan keridhaan yang mutlak ini, tidak ada jalan lain kecuali dengan mengikuti salafush sholih.
Allah juga memberi ancaman bagi siapa yang mengikuti jalan selain orang mukmin.
Allah Ta’ala berfirman yang artinya,
“Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115).

Yang dimaksudkan dengan orang-orang mukmin ketika ayat ini turun adalah para sahabat (para salaf).
Barangsiapa yang menyelisihi jalan mereka akan terancam kesesatan dan jahannam.
Oleh karena itu, mengikuti jalan salaf adalah wajib.
Menyandarkan Diri Pada Salafush Sholih Setelah kita mengetahui bahwa mengikuti jalan hidup salafush sholih adalah wajib, maka bolehkan kita menyandarkan diri pada salaf sehingga disebut salafi (pengikut salaf)?

Tidakkah ini termasuk golongan/kelompok baru dalam Islam?

Jawabannya kami ringkas sebagai berikut: 

[1] Istilah salaf bukanlah suatu yang asing di kalangan para ulama, 

[2] Keengganan untuk menyandarkan diri pada salaf berarti berlepas diri dari Islam yang benar yang dianut oleh salafush sholih, 

[3] Kenapa penyandaran kepada berbagai madzhab/paham dan pribadi tertentu seperti Syafi’i (pengikut Imam Syafi’i) dan Asy’ari (pengikut Abul Hasan Al Asy’ari) tidak dipersoalkan?! Padahal itu adalah penyandaran kepada orang yang tidak luput dari kesalahan dan dosa!! 

[4] Salafi adalah penyandaran kepada kema’shuman secara umum (keterbebasan dari kesalahan) sehingga memuliakan seseorang, 

[5] Penyandaran kepada salaf bertujuan untuk membedakan dengan kelompok lainnya yang semuanya mengaku bersandar pada Al Qur’an dan As Sunnah, namun tidak mau beragama (bermanhaj) seperti salafush sholih yaitu para sahabat dan pengikutnya. 

(Lihat Al Manhajus Salafi ‘inda Syaikh al-Albani).

Kesimpulannya sebagaimana dikatakan Syaikh Salim Al Hilali,

“Penamaan salafi adalah bentuk penyandaran kepada salaf. Penyandaran seperti ini adalah penyandaran yang terpuji dan cara beragama (bermanhaj) yang tepat. Dan bukan penyandaran yang diada-adakan sebagai madzhab baru.” (Limadza Ikhtartu Al Manhaj As Salaf) Solusi Perpecahan Umat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan solusi mengenai perpecahan umat Islam saat ini untuk berpegang teguh pada sunnah Nabi dan sunnah khulafa’ur rasyidin -yang merupakan salaf umat ini-.

Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,

“Dan sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah kalian terhadap sunnahku dan sunnah khulafa’rosyidin yang mendapat petunjuk.
Maka berpegang teguh dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham.” (Hasan Shohih, HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Jalan Salaf Adalah Jalan yang Selamat Orang yang mengikuti jalan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya (salafush sholih) inilah yang selamat dari neraka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan; satu golongan masuk surga, 70 golongan masuk neraka.

Nashrani terpecah menjadi 72 golongan; satu golongan masuk surga, 71 golongan masuk neraka.

Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, umatku akan terpecah menjadi 73 golongan; satu golongan masuk surga dan 72 golongan masuk neraka.

Ada sahabat yang bertanya,’Wahai Rasulullah! Siapa mereka yang masuk surga itu?

’ Beliau menjawab, ‘Mereka adalah Al-Jama’ah‘.”

(HR. Ibnu Majah, Abu Daud, dishahihkan Syaikh Al Albani).

Dalam riwayat lain para sahabat bertanya,’Siapakah mereka wahai Rasulullah?‘ Beliau menjawab,‘Orang yang mengikuti jalan hidupku dan para sahabatku.‘ (HR. Tirmidzi) 

Sebagai nasihat terakhir, ‘Ingatlah, kata salafi -yaitu pengikut salafush sholih- bukanlah sekedar pengakuan (klaim) semata, tetapi harus dibuktikan dengan beraqidah, berakhlak, beragama (bermanhaj), dan beribadah sebagaimana yang dilakukan salafush sholih.’

Ya Allah, tunjukilah kami pada kebenaran dengan izin-Mu dari jalan-jalan yang menyimpang dan teguhkan kami di atasnya. Alhamdulillahillazi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

***Disusun oleh: Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal hafidzahullah  Artikel www.muslim.or.id