Hijriah

Sabtu, 28 Juni 2014

UMMU SULEIM BINTU MILHAN

UMMU SULEIM BINTU MILHAN

Beliau termasuk diantara wanita Anshar yang dahulu memeluk agama Islam, beliau adalah istri dari Malik bin An Nadhar, mereka memiliki anak bernama Anas.

Ketika ia memeluk agama Islam suaminya murka dan pergi meninggalkannya, sedang ia tetap teguh dalam keislamannya.

Setelah itu walau ia masih cukup muda ia menghabiskan hari-harinya di jalan Allah, ia membawa anaknya Anas yang ketika itu berusia sepuluh tahun kepada Rasulullah dan menyatakan sudi berkhidmat kepada Beliau.

Ada seorang pemuda terpandang di Madinah nan gagah lagi kaya raya yang datang ingin mempersuntingnya yaitu Abu Thalhah (sebelum ia memeluk agama Islam).

Sedang ia ketika itu boleh dikatakan pemuda idaman gadis-gadis di Madinah, karena kedudukan, ketampanan dan kekayaannya serta segala kelebihan yg ia miliki. Ia pun mengira bahwa Ummu Suleim akan melayang bak mendapat durian runtuh ketika ia meminangnya.

Akan tetapi ia terkejut tidak mengira mendengar jawaban wanita tsb;

Wahai Abu Thalhah, tidakkah engkau tahu bahwa Tuhan yg engkau sembah hanyalah sebongkah kayu yang tumbuh di bumi yang kemudian dipahat oleh seseorang dari bani fulan?

Ia menjawab;

Ya.

Tidakkah engkau malu sujud kepada kayu yang tumbuh di bumi yang kemudian dipahat oleh seseorang dari bani fulan?

Maka Abu Thalhah dengan keangkuhannya menyodorkan mahar yang sangat banyak, tetapi wanita tersebut tetap dalam keistiqamahannya dan menepis semua tawaran itu seraya berkata;

Demi Allah, pinangan orang sepertimu tidak akan mungkin ditolak, tetapi engkau seorang lelaki yg kafir sedang aku seorang wanita muslimah, aku tidak halal menikah denganmu, jika engkau masuk Islam itulah yg akan menjadi maharku dan aku tidak meminta yg lain. (dinukilkan oleh An Nasai dg sanad yg shahih 6/114)

Di hari berikutnya Abu Thalhah kembali datang membawa mahar yg lebih banyak lagi menggiurkan. Ternyata Ummu Suleim tetap pada pendiriannya, keistiqamahannya ini justru menambah keanggunan dan kebeningan pribadinya.

Ia pun berkata kepadanya; Wahai Abu Thalhah, tidakkah engkau menyadari jika Tuhan yang engkau sembah dipahat oleh seorang budak dari bani fulan? Bahkan jika engkau nyalakan api niscaya ia pasti akan terbakar.

Ucapannya sangat menyentuh sekaligus menyentak jiwa Abu Thalhah hingga muncul pertanyaan dalam benaknya "layakkah tuhan terbakar...?"

ganjalan ini menggetarkan lisannya mengucapkan; Asyhadu Allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah.

Saat itu lah Ummu Suleim berkata kepada putranya Anas, dengan hati berbunga-bunga; kemarilah anakku, nikahkan aku dengan Abu Thalhah. Anas kemudian menhadirkan para saksi dan jadilah ibunya dan Abu Thalhah sepasang suami istri.

Begitu bahagianya Abu Thalhah menyunting Ummu Suleim hingga ia berniat menyerahkan segala kekayaannya kepada Ummu Suleim. Sementara ia ternyata seorang wanita mulia nan tidak gila dengan kemilau harta dunia. Dengan santunnya ia pun mencurahkan hatinya seraya berkata;

Wahai suamiku, aku telah menerima pinanganmu karena Allah, dan aku tidak mengharapkan mahar selain keislamanmu.

Sesungguhnya ia yakin dg islamnya Abu Thalhah, bukan hanya dikaruniai seorang suami yg mulia saja, akan tetapi dilimpahkan juga pahala dari Allah, mengalahkan dan menyingkirkan segala yg ada di dunia ini, sebagaimana aku pernah mendengar Nabi bersabda;

"Jika Allah memberi hidayah kepada seseorang lewat tanganmu niscaya lebih baik bagimu dari dunia dan sagala isinya"

(Fath AlBaar 7/476)

Artikel dikirim oleh Akhuna Abu Ihsan dari Bekasi.
Semoga bermanfaat dan memberi inspirasi positif.

Abu Fauzan Al Junaedy - Semoga Alloh menjaganya -

Senin, 23 Juni 2014

Ibadah Bukan Beban

#Ibadah Bukan Beban, justru Kebutuhan & Kenikmatan#

Ust. Djazuli LC Saudaraku! Allah yg kita sembah adalah yg Maha sempurna, Maha Penyayang lagi Maha Lembut.. Lantas, apa efek realita tersbt terhdp ibadah kita? Efeknya sangat jelas, bhw sekecil apapun amal ibadah yg kita lakukan adalah bentuk kebutuhan manusia kpd Rabbnya.. Logikanya jelas, Allah itu Maha sempurna, lantas mengapa Ia menyuruh kita beribadah kpd-Nya? pesan & jwbnnya jelas, krn kalian semua butuh Aku( Allah) yg akan membahagiakan mu dunia akhirat Ibadah bukan sekedar seremonial, atau transaksi jual beli ( saya beramal, maka Allah memberi pahala) atau wujud ketabahan dlm menjalani ujian..apalagi adanya anggapan bhw ibadah itu beban ( yg mengekang kebebasan sebebas binatang) Semua pemahaman itu hanya bercokol dihati yg sama sekali tdk mengenal Allah kecuali sekedarnya saja.. Simak statement ibnul Qoyyim berikut, "Jika anda benar2 mengenal Allah dgn baik & benar, justru ibadah itu penyejuk mata manusia, puncak kelezatan & kedamaian hati serta    kenikmatan tersendiri yg tiada duanya." So, sobat! Semakin kita merasa butuh kpd ibadah (ikhlas & mencontoh Rasul), maka semangat ibadah akan mengalir ke seluruh tubuh secara dahsyat & kedamaian serta kebahagiaan merasul ke bagian hati yg paling dalam secara berangsur namun pasti tanpa harus mengeluarkan biaya mahal & energi dgn percuma.. Semoga Allah memberi hidayah & taufik kpd kita semua!

NAMIMAH

NAMIMAH

Ust. Rochmad supriyadi LC

Alhamdulillah, washolatu wassalamu ala' Rosulillah, wa ba'du; Sesungguhnya diantara penyakit kronis yg diderita banyak kaum manusia yg merupakan kebiasaan buruk adalah berbuat namimah, yaitu menebar kebencian antara manusia & memperbanyak ungkapan " katanya & katanya ", dlm rangka merusak hubungan antara mereka. Namimah merupakan perbuatan kotor & mengandung najiz yg ada pada perangai manusia, didalam hadist di gabungkan antara najis ini dg najis yg ada pada badan manusia, yaitu air seni. Abdullah ibnu Abbas berkata, suatu hari Nabi sallallahu alaihi wa sallam melewati dua kuburan & seraya berkata," Sesungguhnya kedua penghuni kubur ini sedang disiksa, & keduanya disiksa bukan karena perkara yg besar, adapun salah satunya ia tdk membersihkan air kencing nya, adapun satunya ia berjalan dg menebar perbuatan namimah". HR Bukhary & Muslim. Abu Hurairah berkata, suatu hari kami berjalan bersama Rosulullah & melewati dua kuburan, maka nabi berdiri mendekat seraya wajahnya berubah, maka Abu hurairah bertanya,' apa yg terjadi wahai Rosulillah? ,maka Nabi menjawab," Apakah kamu tidak mendengar apa yg sedang aku dengar? Maka dikatakan, apa itu wahai Rosulillah?, Nabi berkata," Sesungguhnya kedua orang penghuni kubur ini sedang disiksa dg siksa yg keras dlm suatu dosa yg ringan", salah satunya ia tdk membersihkan dari air kencingnya, & satunya  ia menganggu manusia dg lisannya & berjalan menebar namimah". HR Ibnu Hibban. Berkata Al-Allamah As-Safa'riny," Sebagiyan Ahlu Ilmi mengungkap rahasia yg terkandung dlm hadist yg sepantasnya ditulis dg tinta emas, yaitu; " Bahwa perkara pertama yg akan ditanya olih Allah dihari kiyamat adalah ibadah Sholat & urusan pertumpahan darah". Sedangkan bersuci dari najis merupakan syarat sahnya sholat, jika air kencing menempel pada tubuh & pakaian maka akan menjadikan tidak berfungsinya bersuci/toharoh. Bersambung..

NAMIMAH Bag.2

NAMIMAH

Ust. Rochmad supriyadi LC Lanjutan Dan sebab terjadinya pertumpahan darah manusia dg tanpa hak adalah karena timbulnya perselisihan & pertikaian, sedangkan pertikaian muncul karena dijumpainya perbuatan namimah yg menjadikan muncul perpecahan & perselisihan.maka perbuatan namimah adalah sebab mendatangkan perselisihan & mendatangkan adzab kubur & adazab neraka. Ancaman bagi pelaku namimah sangatlah berat, sebagaimana Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda," Tidak akan masuk surga orang yg sering berbuat namimah ". HR Bukhary & Muslim. Berkata Hannad ibnus-Saryi dari Atho' ibnus- Sa'ib, ia berkata, " Aku datang dari Makkah & bertemu dg As-Sya'byi, ia berkata,' Wahai Abu Zaid, apakah engkau mengetahui apa yg aku dengar?, maka dijawab, tidak, kecuali apa yg aku dengar dari Abdurrohman ibnu Abdullah ibnu sa'bith, ia berkata," Tidak akan tinggal di Makkah orang yg gemar menumpahkan darah, pemakan riba, & gemar melakukan namimah". Ia berkata,' Aku heran tatkala namimah disejajarkan dg penumpahan darah & pemakan riba? Maka  As-Sya'byi berkata,'Apa yg engkau herankan, bukankah darah tertumpah & diterjangnya perbuatan haram kecuali disebabkan olih namimah!!?..... Berkata Yahya ibnu Abi katsir," Melakukan namimah sesaat akan menimbulkan keburukan melebihi kerusakan perbuatan sihir selama sebulan".

Semangatlah

Sahabatku

Perhatikan hadist berikut ini:

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

(احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللهِ وَلَا تَعْجَزْ، وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ: لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا؛ وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرُ اللهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ؛ فَإِنَّ “لَوْ” تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ) رواه مسلم (2664).

“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagi anda. Mintalah pertolongan kepada Allah. Jangan lemah. Ketika anda tertimpa sesuatu, janganlah anda berucap: ‘Seandainya aku begini dan begitu pastilah jadinya begini dan begitu.’ Namun ucapkanlah: ‘Ini telah Allah tentukan berdasarkan apa yang Dia kehendaki.’ Karena ungkapan “Seandainya/sekiranya/jika” akan membuka amalan syaithan.”

(Diriwayatkan oleh Muslim)

Hindari keluhan seperti ini

“Seandainya aku tak telat sedikit saja maka keberhasilan pasti telah kuraih”.

Ucapkan. Ini adalah sudah menjadi qodar Allah Ta'ala

Allahu A'lam

Mimpi

Sahabat ku

Salah satu upaya setan untuk mengganggu manusia adalah mempermainkan mereka dalam mimpi. Karena itu, perlu kita yakini, sumber mimpi tidak selamanya datang dari Allah. Bisa juga karena bawaan perasaan atau permainan setan.

Disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Mimpi itu ada tiga macam: bisikan hati, ditakuti setan, dan kabar gembira dari Allah.”

Diantara mimpi yang datang dari setan adalah mimpi buruk,

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, ada seorang Arab badui datang menemui Nabi kemudian bertanya, “Ya rasulullah, aku bermimpi kepalaku dipenggal lalu menggelinding kemudian aku berlari kencang mengejarnya”. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada orang tersebut, “Jangan kau ceritakan kepada orang lain ulah setan yang mempermainkan dirimu di alam mimpi”. Setelah kejadian itu, aku mendengar Nabi menyampaikan dalam salah satu khutbahnya, “Janganlah kalian menceritakan ulah setan yang mempermainkan dirinya dalam alam mimpi” (HR. Muslim )

Demikian pula mimpi jorok, mimpi ini datang dari setan,

Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,ِ

Mimpi baik itu dari Allah, dan mimpi buruk dan mimpi jorok itu dari setan. (HR. Bukhari  dan Muslim )

Untuk itulah, mayoritas ulama berpendapat, para nabi tidak pernah mengalami mimpi jorok, karena mimpi jorok dari setan.

@ibrahimradio
www.ibrahimradio.com

Minggu, 22 Juni 2014

Apa Hukum Sholat di Tempat Gelap

Sahabat ku

Hukum Shalat di Tempat Gelap

Pertanyaan:

 Bgmn hukumnya shalat tanpa penerangan atau ruangan yg kurang terang??

Jawaban:

Shalat di tempat yang gelap pada dasarnya mubah, artinya tidak ada anjuran khusus untuk shalat di tempat yang gelap, tidak pula ada larangan untuk shalat di tempat gelap. Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, shalat malam yang dikerjakan beliau dan para sahabat dilakukan di tempat dan suasana yang gelap. A’isyah radhiyallahu ‘anhamenceritakan,

Suatu malam, saya kehilangan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam, akupun mencarinya dengan gerayangan tanganku. Tiba-tiba aku menyentuh kedua tumit beliau dalam posisi tegak sedang sujud. Beliau membaca:A’udzu bi ridhaka min sakhatik, wa bi mu’afatika min ‘uqubatik,….dst. (HR. Malik, Muslim, Turmudzi, dan Nasai).

Imam Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang shalat di tempat yang gelap. Apakah ada hadis shahih yang menyebutkan bahwa ini makruh? Jawaban beliau,

Saya tidak pernah mengetahui hadis ini. Karena itu, siapa saja yang membawakan hadis ini, wajib menjelaskan status keabsahannya. Sedangkan shalat di kegelapan di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam itu yang umumnya terjadi. Karena masjid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika itu belum ada lampu, sebagaiman keterangan A’isyahradhiyallahu ‘anha,  “Rumah-rumah ketika itu belum ada lampunya.” (HR. Bukhari )

Bisa Menjadi Makruh atau Dianjurkan jika Mempengaruhi Kekhusyuan

Jika shalat di tempat yang gelap bisa mempengaruhi kekhusyuan, hukum asal mubah ini bisa berubah menjadi makruh atau sebaliknya dianjurkan.

Dalam fatwa Syabakah islamiyah dinyatakan,

Akan tetapi, bisa jadi dihukumi makruh shalat di tempat yang gelap, jika orang yang shalat takut dengan kegelapan atau mempengaruhi konsntrasinya. Sebagaimana bisa dihukumi dianjurkan, jika shalat di tempat yang gelap ini bisa mengundang rasa khusyu atau terhindar dari melihat hal-hal yang mengganggu shalat. (Fatwa Syabakah Islamiyah)

Dijawab oleh ustadz Ammi Nur

Sifat Malu Seorang Wanita

Sahabatku

Sifat Malu pada wanita

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabdaٍ

“Rasa malu tidaklah mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari dan Muslim dari ‘Imron bin Hushain.)

Rasa malu semestinya ada pada setiap wanita. Apabila ketika bergaul dengan pria. Wanita yang baik seharusnya memiliki sifat malu yang sangat.
Kita perhatikan contoh yang baik dari wanita di zaman Nabi Musa ‘alaihis salam. Allah Ta’ala berfirman, artinya

“Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: “Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?” Kedua wanita itu menjawab: “Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya”. Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya.” (QS. Qashash: 23-24).

Sungguh bagusnya sifat kedua wanita ini, mereka malu berdesak-desakan dengan kaum lelaki untuk meminumkan ternaknya.

Namun coba bayangkan dengan wanita di zaman sekarang ini!

Tidak cukup sampai di situ kebagusan akhlaq kedua wanita tersebut. Lihatlah bagaimana sifat mereka tatkala datang untuk memanggil Musa ‘alaihis salaam; Allah melanjutkan firman-Nya,

“Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan penuh rasa malu, ia berkata, ‘Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami.‘” (QS. Al Qashash : 25)

Ayat ini,menjelaskan bagaimana seharusnya kaum wanita berakhlaq dan bersifat malu. Allah menyifati gadis wanita yang mulia ini dengan cara jalannya yang penuh dengan rasa malu dan terhormat.

Umar bin Khoththob rodiyallohu ‘anhu mengatakan, “Gadis itu menemui Musa ‘alaihis salaam dengan pakaian yg tertutup rapat, menutupi wajahnya.” Sanad riwayat ini shahih.

Pacaran Yang Islami "Stop Tunggu Dulu"

Sahabatku

Mau pacaran islami. ..!
Stop..tunggu dulu. ..!

Simak yang dibawah ini..

Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah dalam salah satu ceramahnya pernah mengatakan bahwa, “sesuatu yang dinisbatkan kepada Islam artinya ia dia diajarkan oleh Islam atau memiliki landasan dari Islam”. Oleh karena itu, istilah ‘pacaran islami’ sendiri sejatinya tidak benar karena Islam tidak pernah mengajarkan pacaran dan tidak ada landasan pacaran Islami dalam syariat. Bahkan sebaliknya, ajaran Islam melarang kegiatan-kegiatan yang ada dalam pacaran, atau singkatnya, Islam melarang pacaran.

Mengapa harus pacaran 

Pacaran’ bukanlah istilah yang ada dalam khazanah Islam. Maka memang tidak ditemukan dalil yang bunyinya “janganlah kalian pacaran” atau “pacaran itu haram” atau semisalnya. Dan dalam kitab para ulama terdahulu pun tidak ada bab mengenai pacaran. Lalu mengapa kita bisa katakan Islam melarang pacaran? Karena jika kita melihat realita, tidak bisa dipungkiri bahwa dalam pacaran terdapat kegiatan-kegiatan atau hal-hal yang dilarang dalam Islam,
Firman Allah Ta’ala, artinya

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al Isra’: 32)

Menikah lebih baik dan dapat menjaga kemuliaan kita

Rasulullah Shallahu alaihi wasallam bersabda:

“Wahai kaum muda, barangsiapa di antara kalian telah mampu maka hendaknya menikah, karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab ia dapat mengekangnya.”( HR. Bukhari )

Takut tidak dapat menafkahi....!

Jika kita menjalani nikah, maka Allah akan memudahkan rizki untuk dirimu dan keluarga mu. Allah Ta'ala berfirman,artinya:

“ Kami akan memberi rezki kepadamu dan kepada mereka.” (QS. Al An'am: 151) 

Allahu a'lam

Setiap Yang Terlarang itu Menarik

Setiap yang terlarang itu menarik (memikat).

Dahulu, tatkala hubungan antara anda dengannya terlarang dalam agama, maka setan berusaha sekuat tenaga untuk mengaburkan pandangan dan akal sehat anda, sehingga anda hanyut oleh badai asmara. Karena anda hanyut dalam badai asmara haram, maka mata anda menjadi buta dan telinga anda menjadi tuli, sehingga andapun bersemboyan: Cinta itu buta. Dalam pepatah arab dinyatakan:

حُبُّكَ الشَّيْءَ يُعْمِي وَيُصِمُّ

Cintamu kepada sesuatu, menjadikanmu buta dan tuli.
Akan tetapi setelah hubungan antara anda berdua telah halal, maka spontan setan menyibak tabirnya, dan berbalik arah. Setan tidak lagi membentangkan tabir di mata anda, setan malah berusaha membendung badai asmara yang telah menggelora dalam jiwa anda. Saat itulah, anda mulai menemukan jati diri pasangan anda seperti apa adanya. Saat itu anda mulai menyadari bahwa hubungan dengan pasangan anda tidak hanya sebatas urusan paras wajah, kedudukan sosial, harta benda. Anda mulai menyadari bahwa hubungan suami-istri ternyata lebih luas dari sekedar paras wajah atau kedudukan dan harta kekayaan. Terlebih lagi, setan telah berbalik arah, dan berusaha sekuat tenaga untuk memisahkan antara anda berdua dengan perceraian:

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ. البقرة 102

“Maka mereka mempelajari dari Harut dan Marut (nama dua setan) itu apa yang dengannya mereka dapat menceraikan (memisahkan) antara seorang (suami) dari istrinya.” (Qs. Al Baqarah: 102)

Mungkin anda bertanya, lalu bagaimana saya harus bersikap?

Bersikaplah sewajarnya dan senantiasa gunakan nalar sehat dan hati nurani anda. Dengan demikian, tabir asmara tidak menjadikan pandangan anda kabur dan anda tidak mudah hanyut oleh bualan dusta dan janji-janji palsu.

Mereka akan menjadii saksi

 Mereka Akan Menjadi Saksi.

Janganlah engkau memusuhi syaitan tatkala di hadapan manusia, namun engkau menjadi sahabatnya tatkala bersendirian.

Tatkala engkau menutup pintu kamar, lalu menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang yang melihatmu, tatkala itu ingatlah:

1) Allah Maha Melihat dan Mendengar ...

2) Jangankan gerakan tubuhmu, bahkan lirikan dan jelalatan matamu diketahui oleh Allah bahkan telah dicatat oleh Allah sebelum engkau mengedip matamu, bahkan isi hatimu diketahui oleh Allah ...

3) Allah mengadakan pengawasan yang ketat dengan menugaskan para malaikat untuk mencatat segala gerak-gerikmu. Bahkan malaikat Raqib dan 'Atid senantiasa menyertaimu ...

4) Bukan hanya buku catatan amalanmu yang akan menjadi saksi kelak pada hari kiamat, bahkan tanganmu dan kakimu akan menjadi saksi, sementara mulutmu ditutup, maka bagaimana engkau bisa membela dirimu?

5) Bahkan kulitmu akan berbicara membeberkan aib-aibmu yang kau lakukan tatkala bersendirian ...

6) Demikian juga bumi tempat pijakmu tatkala engkau bermaksiat akan ikut pula menjadi saksi ...

7) Lantas bagaimana lagi jika ternyata yang memaparkan files aib-aibmu dan yang akan mengadilimu adalah Allah ...

8) Lantas bagaimana lagi jika pengumbaran aib-aibmu ternyata di hadapan khalayak ramai, di hadapan kedua orang tuamu, istrimu, anak-anakmu, para sahabatmu, & murid-muridmu yang selama ini hanya mengenal penampilanmu sebagai orang baik di hadapan mereka?

Ya Allah anugrahkanlah kepada kami rasa khosyah kepada-Mu tatkala kami bersendirian.

Oleh Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Kamis, 19 Juni 2014

Julaibib

Kisah julaibib rodhiallahu 'anhu

Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Sebutan ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri jasmani serta kedudukannya di antara manusia; kerdil dan rendahan.

Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan dia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya.

Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia.

Celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat kemasyarakatan yang tak terampunkan.

Julaibib yang tersisih. Tampilan jasmani dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya.

Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas.

Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak.

Abu Barzah, seorang pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib:

”Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”

Demikianlah Julaibib.

Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhlukpun bisa menghalangi.

Julaibib berbinar menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaff terdepan dalam shalat maupun jihad.

Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah dia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam.

Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi, Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.

”Ya Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, ”Tidakkah engkau menikah?”

”Siapakah orangnya Ya Rasulallah”, kata Julaibib, ”Yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”

Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya.

Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orangtua yang berkenan pada Julaibib.

Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama.

”Wahai Julaibib, tidakkah engkau menikah?”

Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.

Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib kemudian membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar.

”Aku ingin”, kata Rasulullah pada si empunya rumah, ”Menikahkan puteri kalian.”

”Betapa indahnya dan betapa berkahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa Sang Nabi lah calon menantunya.

”Ooh.. Ya Rasulallah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram dari rumah kami.”

”Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah. ”Kupinang puteri kalian untuk Julaibib.”

”Julaibib?”
Nyaris terpekik ayah sang gadis.

”Ya. Untuk Julaibib.”

”Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat.

”Saya harus meminta pertimbangan isteri saya tentang hal ini.”

”Dengan Julaibib?” isterinya berseru.

”Bagaimana bisa? Julaibib yang berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta? Demi Allah tidak. Tidak akan pernah puteri kita menikah dengan Julaibib. Padahal kita telah menolak berbagai lamaran…”

Perdebatan itu tak berlangsung lama. Sang puteri dari balik tirai berkata anggun.

”Siapakah yang meminta?”

Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.

”Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah lah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku.”

Sang gadis shalihah lalu membaca ayat ini:

"Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata…"
(QS Al Ahzab [33]: 36)

Dan Sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah:

”Allahumma shubba ‘alaihima khairan shabban.. Wa la taj’al ‘aisyahuma kaddan kadda.. Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh berkah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah…”

DOA YANG INDAH

Sungguh kita belajar dari Julaibib untuk tak merutuki diri, untuk tak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya.

Tak mudah menjadi orang seperti Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas.

Kita juga belajar lebih banyak dari gadis yang dipilihkan Rasulullah untuk Julaibib.

Belajar agar cinta kita berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka.

Karena kita tahu, mentaati Allah dalam hal yang tak kita suka adalah peluang bagi gelimang pahala.

Karena kita tahu, seringkali ketidaksukaan kita hanyalah terjemah kecil ketidaktahuan. Ia adalah bagian dari kebodohan kita.

Isteri Julaibib mensujudkan cintanya di mihrab taat. Ketika taat, dia tak merisaukan kemampuannya.

Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi.

Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihinya.

Isteri Julaibib telah taat kepada Allah dan RasulNya. Allah Maha Tahu.

Dan Rasulullah telah berdoa. Mari kita ngiangkan kembali doa itu di telinga.

”Ya Allah”, lirih Sang Nabi:

”Limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Alangkah agungnya! Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak!

Jika kita bertaqwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita. Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak.

Maka sang gadis menyanggupi pernikahan yang nyaris tak pernah diimpikan gadis manapun itu. Juga tak pernah terbayang dalam angannya. Karena ia taat pada Allah dan RasulNya.

Tetapi bagaimanapun ada keterbatasan daya dan upaya pada dirinya. Ada tekanan-tekanan yang terlalu berat bagi seorang wanita.

Dan agungnya, meski ketika taat ia tak mempertimbangkan kemampuannya, ia yakin Allah akan bukakan jalan keluar jika ia menabrak dinding karang kesulitan. Ia taat.

Ia bertindak tanpa gubris. Ia yakin bahwa pintu kebaikan akan selalu terbuka bagi sesiapa yang mentaati-Nya.

Maka benarlah doa Sang Nabi. Allah karuniakan jalan keluar yang indah bagi semuanya.

Kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama.

Meski di dunia sang isteri shalihah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya.

Julaibib lebih dihajatkan langit meski tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat kepadanya.

Adapun isterinya, kata Anas ibn Malik, tak satupun wanita Madinah yang shadaqahnya melampaui dia, hingga kelak para lelaki utama meminangnya.

Saat Julaibib syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi beliau akan mengajarkan sesuatu kepada para shahabatnya.

Maka Sang Nabi bertanya di akhir pertempuran:

“Apakah kalian kehilangan seseorang?”

“Tidak, Ya Rasulallah!”

Serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.

“Apakah kalian kehilangan seseorang…?”

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.

“Tidak Ya Rasullallah!”

Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.

Rasulullah menghela nafasnya…

“Tetapi aku kehilangan Julaibib…” kata beliau.

Para shahabat tersadar.

“Carilah Julaibib!”

Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputaran menjelempah tujuh jasad musuh yang telah dia bunuh.

Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. BeliauShallallaahu ‘Alaihi wa Sallam menshalatkannya secara pribadi.

Ketika kuburnya digali, Rasulullah duduk dan memangku jasad Julaibib, mengalasinya dengan kedua lengan beliau yang mulia.

Bahkan pula beliau ikut turun ke lahatnya untuk membaringkan Julaibib.

Saat itulah, kalimat Sang Nabi untuk si mayyit akan membuat iri semua makhluq hingga hari berbangkit:

“Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Ya. Pada kalimat itu; tidakkah kita cemburu?

Rabu, 18 Juni 2014

Julaibib

Kisah julaibib rodhiallahu 'anhu

Julaibib, begitu dia biasa dipanggil. Sebutan ini sendiri mungkin sudah menunjukkan ciri jasmani serta kedudukannya di antara manusia; kerdil dan rendahan.

Julaibib. Nama yang tak biasa dan tak lengkap. Nama ini, tentu bukan dia sendiri yang menghendaki. Tidak pula orangtuanya.

Julaibib hadir ke dunia tanpa mengetahui siapa ayah dan yang mana bundanya. Demikian pula orang-orang, semua tak tahu, atau tak mau tahu tentang nasab Julaibib. Tak dikenal pula, termasuk suku apakah dia.

Celakanya, bagi masyarakat Yatsrib, tak bernasab dan tak bersuku adalah cacat kemasyarakatan yang tak terampunkan.

Julaibib yang tersisih. Tampilan jasmani dan kesehariannya juga menggenapkan sulitnya manusia berdekat-dekat dengannya.

Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas.

Tak ada rumah untuk berteduh. Tidur sembarangan berbantalkan tangan, berkasurkan pasir dan kerikil. Tak ada perabotan. Minum hanya dari kolam umum yang diciduk dengan tangkupan telapak.

Abu Barzah, seorang pemimpin Bani Aslam, sampai-sampai berkata tentang Julaibib:

”Jangan pernah biarkan Julaibib masuk di antara kalian! Demi Allah jika dia berani begitu, aku akan melakukan hal yang mengerikan padanya!”

Demikianlah Julaibib.

Namun jika Allah berkehendak menurunkan rahmatNya, tak satu makhlukpun bisa menghalangi.

Julaibib berbinar menerima hidayah, dan dia selalu berada di shaff terdepan dalam shalat maupun jihad.

Meski hampir semua orang tetap memperlakukannya seolah dia tiada, tidak begitu dengan Sang Rasul, Sang rahmat bagi semesta alam.

Julaibib yang tinggal di shuffah Masjid Nabawi, suatu hari ditegur oleh Sang Nabi, Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam.

”Ya Julaibib”, begitu lembut beliau memanggil, ”Tidakkah engkau menikah?”

”Siapakah orangnya Ya Rasulallah”, kata Julaibib, ”Yang mau menikahkan putrinya dengan diriku ini?”

Julaibib menjawab dengan tetap tersenyum. Tak ada kesan menyesali diri atau menyalahkan takdir Allah pada kata-kata maupun air mukanya.

Rasulullah juga tersenyum. Mungkin memang tak ada orangtua yang berkenan pada Julaibib.

Tapi hari berikutnya, ketika bertemu dengan Julaibib, Rasulullah menanyakan hal yang sama.

”Wahai Julaibib, tidakkah engkau menikah?”

Dan Julaibib menjawab dengan jawaban yang sama. Begitu, begitu, begitu. Tiga kali. Tiga hari berturut-turut.

Dan di hari ketiga itulah, Sang Nabi menggamit lengan Julaibib kemudian membawanya ke salah satu rumah seorang pemimpin Anshar.

”Aku ingin”, kata Rasulullah pada si empunya rumah, ”Menikahkan puteri kalian.”

”Betapa indahnya dan betapa berkahnya”, begitu si wali menjawab berseri-seri, mengira bahwa Sang Nabi lah calon menantunya.

”Ooh.. Ya Rasulallah, ini sungguh akan menjadi cahaya yang menyingkirkan temaram dari rumah kami.”

”Tetapi bukan untukku”, kata Rasulullah. ”Kupinang puteri kalian untuk Julaibib.”

”Julaibib?”
Nyaris terpekik ayah sang gadis.

”Ya. Untuk Julaibib.”

”Ya Rasulullah”, terdengar helaan nafas berat.

”Saya harus meminta pertimbangan isteri saya tentang hal ini.”

”Dengan Julaibib?” isterinya berseru.

”Bagaimana bisa? Julaibib yang berwajah lecak, tak bernasab, tak berkabilah, tak berpangkat, dan tak berharta? Demi Allah tidak. Tidak akan pernah puteri kita menikah dengan Julaibib. Padahal kita telah menolak berbagai lamaran…”

Perdebatan itu tak berlangsung lama. Sang puteri dari balik tirai berkata anggun.

”Siapakah yang meminta?”

Sang ayah dan sang ibu menjelaskan.

”Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah? Demi Allah, kirim aku padanya. Dan demi Allah, karena Rasulullah lah yang meminta, maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku.”

Sang gadis shalihah lalu membaca ayat ini:

"Dan tidaklah patut bagi lelaki beriman dan perempuan beriman, apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan lain tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata…"
(QS Al Ahzab [33]: 36)

Dan Sang Nabi dengan tertunduk berdoa untuk sang gadis shalihah:

”Allahumma shubba ‘alaihima khairan shabban.. Wa la taj’al ‘aisyahuma kaddan kadda.. Ya Allah, limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh berkah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah…”

DOA YANG INDAH

Sungguh kita belajar dari Julaibib untuk tak merutuki diri, untuk tak menyalahkan takdir, untuk menggenapkan pasrah dan taat pada Allah dan RasulNya.

Tak mudah menjadi orang seperti Julaibib. Hidup dalam pilihan-pilihan yang sangat terbatas.

Kita juga belajar lebih banyak dari gadis yang dipilihkan Rasulullah untuk Julaibib.

Belajar agar cinta kita berhenti di titik ketaatan. Meloncati rasa suka dan tak suka.

Karena kita tahu, mentaati Allah dalam hal yang tak kita suka adalah peluang bagi gelimang pahala.

Karena kita tahu, seringkali ketidaksukaan kita hanyalah terjemah kecil ketidaktahuan. Ia adalah bagian dari kebodohan kita.

Isteri Julaibib mensujudkan cintanya di mihrab taat. Ketika taat, dia tak merisaukan kemampuannya.

Memang pasti, ada batas-batas manusiawi yang terlalu tinggi untuk kita lampaui. Tapi jika kita telah taat kepada Allah, jangan khawatirkan itu lagi.

Ia Maha Tahu batas-batas kemampuan diri kita. Ia takkan membebani kita melebihinya.

Isteri Julaibib telah taat kepada Allah dan RasulNya. Allah Maha Tahu.

Dan Rasulullah telah berdoa. Mari kita ngiangkan kembali doa itu di telinga.

”Ya Allah”, lirih Sang Nabi:

”Limpahkanlah kebaikan atas mereka, dalam kelimpahan yang penuh barakah. Janganlah Kau jadikan hidupnya payah dan bermasalah..”

Alangkah agungnya! Urusan kita sebagai hamba memang taat kepada Allah. Lain tidak!

Jika kita bertaqwa padaNya, Allah akan bukakan jalan keluar dari masalah-masalah yang di luar kuasa kita. Urusan kita adalah taat kepada Allah. Lain tidak.

Maka sang gadis menyanggupi pernikahan yang nyaris tak pernah diimpikan gadis manapun itu. Juga tak pernah terbayang dalam angannya. Karena ia taat pada Allah dan RasulNya.

Tetapi bagaimanapun ada keterbatasan daya dan upaya pada dirinya. Ada tekanan-tekanan yang terlalu berat bagi seorang wanita.

Dan agungnya, meski ketika taat ia tak mempertimbangkan kemampuannya, ia yakin Allah akan bukakan jalan keluar jika ia menabrak dinding karang kesulitan. Ia taat.

Ia bertindak tanpa gubris. Ia yakin bahwa pintu kebaikan akan selalu terbuka bagi sesiapa yang mentaati-Nya.

Maka benarlah doa Sang Nabi. Allah karuniakan jalan keluar yang indah bagi semuanya.

Kebersamaan di dunia itu tak ditakdirkan terlalu lama.

Meski di dunia sang isteri shalihah dan bertaqwa, tapi bidadari telah terlampau lama merindukannya.

Julaibib lebih dihajatkan langit meski tercibir di bumi. Ia lebih pantas menghuni surga daripada dunia yang bersikap tak terlalu bersahabat kepadanya.

Adapun isterinya, kata Anas ibn Malik, tak satupun wanita Madinah yang shadaqahnya melampaui dia, hingga kelak para lelaki utama meminangnya.

Saat Julaibib syahid, Sang Nabi begitu kehilangan. Tapi beliau akan mengajarkan sesuatu kepada para shahabatnya.

Maka Sang Nabi bertanya di akhir pertempuran:

“Apakah kalian kehilangan seseorang?”

“Tidak, Ya Rasulallah!”

Serempak sekali. Sepertinya Julaibib memang tak beda ada dan tiadanya di kalangan mereka.

“Apakah kalian kehilangan seseorang…?”

Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bertanya lagi. Kali ini wajahnya merah bersemu.

“Tidak Ya Rasullallah!”

Kali ini sebagian menjawab dengan was-was dan tak seyakin tadi. Beberapa menengok ke kanan dan ke kiri.

Rasulullah menghela nafasnya…

“Tetapi aku kehilangan Julaibib…” kata beliau.

Para shahabat tersadar.

“Carilah Julaibib!”

Maka ditemukanlah dia, Julaibib yang mulia. Terbunuh dengan luka-luka, semua dari arah muka. Di seputaran menjelempah tujuh jasad musuh yang telah dia bunuh.

Sang Rasul, dengan tangannya sendiri mengafani Sang Syahid. BeliauShallallaahu ‘Alaihi wa Sallam menshalatkannya secara pribadi.

Ketika kuburnya digali, Rasulullah duduk dan memangku jasad Julaibib, mengalasinya dengan kedua lengan beliau yang mulia.

Bahkan pula beliau ikut turun ke lahatnya untuk membaringkan Julaibib.

Saat itulah, kalimat Sang Nabi untuk si mayyit akan membuat iri semua makhluq hingga hari berbangkit:

“Ya Allah, dia adalah bagian dari diriku. Dan aku adalah bagian dari dirinya.”

Ya. Pada kalimat itu; tidakkah kita cemburu?

Selasa, 17 Juni 2014

Resep Agar Cepat Punya Anak

# RESEP HERBAL AGAR CEPAT PUNYA ANAK #

Nich... dapet Resep dari Sinshe Abu Muhammad , ikut acaranya tadi ^^

Bagi yang ingin cepat mempunyai keturunan, di antaranya bisa di lakukan hal berikut :

RESEP UNTUK MENIGKATKAN KUALITAS SPERMA

*Untuk Laki - laki
- 1 1/2 Ons (150 gram) Tomat
- 1 Ons (100 gram) Nanas
- 6 Buah Stawbery
- di Blender dengan 100 ml air kemudian di saring dan di bagi dua (satu bagian di minum hari ini satu bagian di minum esoknya)

*Untuk Perempuan
- 2 buah apel hijau
- 1/2 Ons (50gram) Toge
- 1 Ons (100 gram) Seledri batang besar
- di blender dengan air 100 cc kemudian di minum

Semoga bermanfaat ...

--------------
Sumber : Ibn Supandy As-Sundawy lewat Buya Sunny Harun

                     ⌣̊┈̥-̶̯͡♈̷̴┈̥-̶̯͡⌣̊

# RESEP HERBAL AGAR CEPAT PUNYA ANAK #

Rabu, 11 Juni 2014

Kekeliruan malam nishfu sya'ban

Kekeliruan Malam Nishfu Sya’ban

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan sahabatnya.

Di bulan Sya’ban ini kita dapat melihat bahwa kaum muslimin sangat antusias dengan hari atau malam nishfu sya’ban (15 Sya’ban).

Benarkah ada amalan tertentu ketika itu? Apakah ada tuntunan puasa, shalat atau do’a ketika itu? Semoga tulisan ini bisa menjawabnya.

Malam Nishfu Sya’ban, Malam Diturunkannya Al Qur’anDi antara kaum muslimin ada yang menganggap bahwa malam Nishfu Sya’ban (malam pertengahan bulan Sya’ban) adalah malam yang istimewa. Di antara keyakinan mereka adalah bahwa malam tersebut adalah malam diturunkannya Al Qur’an. Sandaran mereka adalah perkataan ‘Ikrimah tatkala beliau menjelaskan maksud firman Allah

,إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ (3) فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ (4)

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. 

Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (QS. Ad Dukhan: 3-4)Yang dimaksud dengan malam yang diberkahi dalam ayat ini adalah malam lailatul qadar, menurut mayoritas ulama. Sedangkan ‘Ikrimah –semoga Allah merahmati beliau- memiliki pendapat yang lain. Beliau berpendapat bahwa malam tersebut adalah malam nishfu sya’ban. (Zaadul Masir, 5/346)Namun pendapat yang mengatakan bahwa Al Qur’an itu turun pada malam nishfu Sya’ban adalah pendapat yang lemah karena pendapat tersebut telah menyelisihi dalil tegas Al Qur’an. Ayat di atas (surat Ad Dukhan) itu masih global dan diperjelas lagi dengan ayat

,شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآَن

ُ“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an.” (QS. Al Baqarah:185). Dan dijelaskan pula dengan firman Allah

,إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْر

ِ“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada Lailatul Qadr.” (QS. Al Qadr:1)

Syeikh Muhammad Al Amin Asy Syinqithi rahimahullah mengatakan, “Klaim yang mengatakan bahwa malam yang penuh berkah (pada surat Ad Dukhan ayat 3-4) adalah malam Nishfu Sya’ban –sebagaimana yang diriwayatkan dari ‘Ikrimah dan lain-lain-, tidak diragukan lagi bahwasanya itu adalah klaim yang jelas keliru yang menyelisihi dalil tegas dari Al Qur’an. Dan tidak diragukan lagi bahwa apa saja yang menyelisihi al haq (kebenaran) itulah kebatilan. Sedangkan berbagai hadits yang menerangkan bahwa yang dimaksudkan dengan malam tersebut adalah malam nishfu Sya’ban, itu jelas-jelas telah menyelisihi dalil Al Qur’an yang tegas dan hadits tersebut sungguh tidak berdasar. Begitu pula sanad dari hadits-hadits tersebut tidaklah shahih sebagaimana ditegaskan oleh Ibnul ‘Arobi dan para peneliti hadits lainnya.

Muhammad Abduh Tuasikal

Keritik tentang malam nisfu sya'ban

Kritik Hadits Malam Nishfu sya'ban

Penulis Tuhfatul Ahwadzi (Abul ‘Alaa Al Mubarokfuri) telah menyebutkan satu per satu hadits yang membicarakan keutamaan malam Nishfu Sya’ban.

Awalnya beliau berkata, “Ketahuilah bahwa telah terdapat beberapa hadits mengenai keutamaan malam Nishfu Sya’ban, keseluruhannya menunjukkan bahwa hadits tersebut tidak ada ashl-nya (landasannya).” Lalu beliau merinci satu per satu hadits yang dimaksud.Pertama: Hadits Abu Musa Al Asy’ari, ia berkata,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

,إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِى لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِن

ٍ“Sesungguhnya Allah akan menampakkan (turun) di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan dengan saudaranya.” (HR. Ibnu Majah no. 1390). Penulis Tuhfatul Ahwadzi berkata, “Hadits ini  munqothi’ (terputus sanadnya).” [Berarti hadits tersebut dho’if].

Kedua: Hadits ‘Aisyah, ia berkata,

قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ اللَّيْلِ فَصَلَّى فَأَطَالَ السُّجُودَ حَتَّى ظَنَنْت أَنَّهُ قَدْ قُبِضَ ، فَلَمَّا رَأَيْت ذَلِكَ قُمْت حَتَّى حَرَّكْت إِبْهَامَهُ فَتَحَرَّكَ فَرَجَعَ ، فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ السُّجُودِ وَفَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ قَالَ : ” يَا عَائِشَةُ أَوْ يَا حُمَيْرَاءُ أَظَنَنْت أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ خَاسَ بِك ؟ ” قُلْت : لَا وَاَللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَلَكِنِّي ظَنَنْت أَنْ قُبِضْت طُولَ سُجُودِك ، قَالَ ” أَتَدْرِي أَيَّ لَيْلَةٍ هَذِهِ ؟ ” قُلْت : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ ، قَالَ : ” هَذِهِ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَطَّلِعُ عَلَى عِبَادِهِ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُسْتَغْفِرِينَ وَيَرْحَمُ الْمُسْتَرْحِمِينَ وَيُؤَخِّرُ أَهْلَ الْحِقْدِ كَمَا هُم

ْ“Suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan shalat malam, beliau shalat dan memperlama sujud sampai aku menyangka bahwa beliau telah tiada. Tatkala aku memperhatikan hal itu, aku bangkit sampai aku pun menggerakkan ibu jarinya. Beliau pun bergerak dan kembali. Ketika beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan merampungkan shalatnya, beliau mengatakan, “Wahai ‘Aisyah (atau Wahai Humairo’), apakah kau sangka bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengkhianatimu?” Aku menjawab, “Tidak, demi Allah. Wahai Rasulullah, akan tetapi aku sangka engkau telah tiada karena sujudmu yang begitu lama.”

Beliau berkata kembali, “Apakah engkau tahu malam apakah ini?” Aku menjawab,

“Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Beliau berkata, “Malam ini adalah malam Nishfu Sya’ban. Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla turun pada hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, lantas Dia akan memberi ampunan ampunan pada orang yang meminta ampunan dan akan merahmati orang yang memohon rahmat, Dia akan menjauh dari orang yang pendendam.” Dikeluarkan oleh Al Baihaqi. Ia katakan bahwa riwayat ini mursal jayyid. Kemungkinan pula bahwa Al ‘Alaa’ mengambilnya dari Makhul. [Hadits mursal adalah hadits yang dho’if karena terputus sanadnya]

Ketiga: Hadits Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda

,يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Allah mendatangi seluruh makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban. Dia pun mengampuni seluruh makhluk kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.”
Al Mundziri dalam At Targhib setelah menyebutkan hadits ini, beliau mengatakan, “Dikeluarkan oleh At Thobroni dalam Al Awsath dan Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya dan juga oleh Al Baihaqi. Ibnu Majah pun mengeluarkan hadits dengan lafazh yang sama dari hadits Abu Musa Al Asy’ari. Al Bazzar dan Al Baihaqi mengeluarkan yang semisal dari Abu Bakr Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dengan sanad yang tidak mengapa.” Demikian perkataan Al Mundziri. Penulis Tuhfatul Ahwadzi lantas mengatakan, “Pada sanad hadits Abu Musa Al Asy’ari yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah terdapat Lahi’ah dan dia dinilai dho’if.” [Hadits ini adalah hadits yang dho’if]

Keempat: Hadits ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

,يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا اِثْنَيْنِ مُشَاحِنٍ وَقَاتِلِ نَفْسٍ

“Allah ‘azza wa jalla mendatangi makhluk-Nya pada malam Nishfu Sya’ban, Dia mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali dua orang yaitu orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh jiwa.”

Al Mundziri mengatakan, “Hadits ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan sanad yang layyin (ada perowi yang diberi penilaian negatif/ dijarh, namun haditsnya masih dicatat).” [Berarti hadits ini bermasalah].

Kelima: Hadits Makhul dari Katsir bin Murroh, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda di malam Nishfu Sya’ban

,يَغْفِرُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِأَهْلِ الْأَرْضِ إِلَّا مُشْرِكٌ أَوْ مُشَاحِن

ٌ“Allah ‘azza wa jalla mengampuni penduduk bumi kecuali musyrik dan orang yang bermusuhan”. Al Mundziri berkata, “Hadits ini dikeluarkan oleh Al Baihaqi, hadits ini mursal jayyid.” [Berarti dho’if karena haditsnya mursal, ada sanad yang terputus]. Al Mundziri juga berkata, “Dikeluarkan pula oleh Ath Thobroni dan juga Al Baihaqi dari Makhul, dari Abu Tsa’labah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

,يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى عِبَادِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِلْمُؤْمِنِينَ وَيُمْهِلُ الْكَافِرِينَ وَيَدَعُ أَهْلَ الْحِقْدِ بِحِقْدِهِمْ حَتَّى يَدَعُوهُ

“Allah mendatangi para hamba-Nya pada malam Nishfu Sya’ban,  Dia akan mengampuni orang yang beriman dan menangguhkan orang-orang kafir, Dia meninggalkan orang yang pendendam.”
Al Baihaqi mengatakan, “Hadits ini juga antara Makhul dan Abu Tsa’labah adalah mursal jayyid”. [Berarti hadits ini pun dho’if].

Keenam: Hadits ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

,إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَّا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Apabila malam nisfu Sya’ban, maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: “Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini, hingga terbit fajar.” Hadits ini dikeluarkan oleh Ibnu Majah dan dalam sanadnya terdapat Abu Bakr bin ‘Abdillah bin Muhammad bin Abi Saburoh Al Qurosyi Al ‘Aamiri Al Madani. Ada yang menyebut namanya adalah ‘Abdullah, ada yang mengatakan pula Muhammad. Disandarkan pada kakeknya bahwa ia dituduh memalsukan hadits, sebagaimana disebutkan dalam At Taqrib. Adz Dzahabi dalam Al Mizan mengatakan, “Imam Al Bukhari dan ulama lainnya mendho’ifkannya”. Anak Imam Ahmad, ‘Abdullah dan Sholih, mengatakan dari ayahnya, yaitu Imam Ahmad berkata, “Dia adalah orang yang memalsukan hadits.” An Nasai mengatakan, “Ia adalah perowi yang matruk (dituduh dusta)”. [Berarti hadits ini di antara maudhu’ dan dho’if]

Penulis Tuhfatul Ahwadzi setelah meninjau riwayat-riwayat di atas, beliau mengatakan, “Hadits-hadits ini dilihat dari banyak jalannya bisa sebagai hujjah bagi orang yang mengklaim bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang menerangkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban.

Wallahu Ta’ala a’lam.

”Ibnu Rajab rahimahullah mengatakan, “Hadits yang menjelaskan keutamaan malam Nishfu Sya’ban ada beberapa. Para ulama berselisih pendapat mengenai statusnya. Kebanyakan ulama mendhoifkan hadits-hadits tersebut. Ibnu Hibban menshahihkan sebagian hadits tersebut dan beliau masukkan dalam kitab shahihnya.” (Lathoif Al Ma’arif, 245)

Tanggapan penulis

Janganlah malam tersebut dikhususkan dengan shalat tertentu.
Jangan pula mengkhususkan puasa tertentu ketika itu. Namun catatan yang perlu diperhatikan, kami sama sekali tidak katakan, “Barangsiapa yang biasa bangun shalat malam, janganlah ia bangun pada malam Nishfu Sya’ban.
Atau barangsiapa yang biasa berpuasa pada ayyamul biid (tanggal 13, 14, 15 H), janganlah ia berpuasa pada hari Nishfu Sya’ban
(15 Hijriyah).

” Ingat, yang kami maksudkan adalah janganlah mengkhususkan malam Nishfu Sya’ban dengan shalat tertentu atau siang harinya dengan puasa tertentu.”

(Liqo’ Al Bab Al Maftuh, kaset no. 115)

Dalam hadits-hadits tentang keutamaan malam Nishfu Sya’ban disebutkan bahwa Allah akan mendatangi hamba-Nya atau akan turun ke langit dunia. Perlu diketahui bahwa turunnya Allah di sini tidak hanya pada malam Nishfu Sya’ban.
Sebagaimana disebutkan dalam Bukhari-Muslim bahwa Allah turun ke langit dunia pada setiap 1/3 malam terakhir, bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja.

Oleh karenanya, keutamaan malam Nishfu Sya’ban sebenarnya sudah masuk pada keumuman malam, jadi tidak perlu diistimewakan.‘Abdullah bin Al Mubarok rahimahullah pernah ditanya mengenai turunnya Allah pada malam Nishfu Sya’ban, lantas beliau pun memberi jawaban pada si penanya, “Wahai orang yang lemah! Yang engkau maksudkan adalah malam Nishfu Sya’ban?!
Perlu engkau tahu bahwa Allah itu turun di setiap malam (bukan pada malam Nishfu Sya’ban saja, -pen).”

Adapun riwayat yang menerangkan bahwa Allah akan turun setiap malam, itu terdapat dalam berbagai hadits yang shahih. Ketahuilah bahwa malam Nishfu Sya’ban itu sudah masuk pada keumuman malam, insya Allah.

Wallahu waliyyut taufiq.Shubuh hari di Panggang-Gunung Kidul, 3rd Sya’ban 1432 H (05/07/2011)

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Urus saja dirimu sendiri

"..Urus Saja Dirimu Sendiri!"

Segala puji hanyalah milik اللّـﮧ. Sholawat dan salam untuk Rosululloh, istri-istri & keluarganya serta untuk seluruh sahabatnya,  Amma ba'du!

Saudaraku seislam yang saya muliakan, semoga Alloh memberikan kepada kita kefahaman dan manfaat dari hadits Nabi kita berikut :

عَنْ عَبْداللهِ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: إِنَّ أَحَبَّ الْكَلاَمِ إِلَى اللهِ ، أَنْ يَقُولَ الْعَبْدُ : سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ ، وَتَعَالَى جَدُّكَ ، وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ ، وَإِنَّ أَبْغَضَ الْكَلاَمِ إِلَى اللهِ ، أَنْ يَقُولَ الرَّجُلُ لِلرَّجُلِ : اتَّقِ اللَّهَ ، فَيَقُولَ : عَلَيْكَ نَفْسَكَ.

Dari Abdulloh bin Mas’ud ~rodhiyallohu ‘anhu~, ia berkata : Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ bersabda : “Sesungguhnya kalimat yang paling dicintai Alloh adalah ucapan seorang hamba :

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ ، وَتَبَارَكَ اسْمُكَ ، وَتَعَالَى جَدُّكَ ، وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ

Subhaanakalloohumma wa bihamdika wa Tabaarokas-muka wa Ta'aalaa jadduka wa laa ilaaha ghoiruk(a)

Maha Suci Engkau ya Alloh, Maha Terpuji Engkau, Maha Mulia nama-Mu, Maha Tinggi kemulian-Mu, dan tidak ada yang berhak diibadahi dengan benar selain Engkau.

Sedangkan kalimat yang paling Alloh benci adalah ucapan seseorang ketika ia dinasihati orang lain, ‘Bertakwalah kepada Alloh’, lalu ia mengatakan, ‘Urus saja dirimu sendiri!’.

[HR. An-Nasaa-ie dalam Amalul Yaumi wal Lailah. Dishohihkan Syaikh Al Albani rohimahulloh dalam Ash-Shohihah no. 2939]

Semoga اللّـﮧ membimbing kita kepada ucapan dan amalan yang dicintai dan diridhoi-Nya..dan semoga kita termasuk hamba-hamba Nya yang selamat dunia dan akhirat

آميــــــــــــــــــــن يَا رَبَّ العَالَمِينْ

و صلّى اللّـﮧ و سلّم على نـــبيّنا محمّد
Ibnu mukhtar
                   ~o0o~

Cinta

Cinta

Segala puji hanyalah milik اللّـﮧ. Sholawat dan salam untuk Rosululloh. Amma ba'du!

Saudaraku seislam yang saya muliakan, cinta  terkadang menjadi anugerah, terkadang menjadi musibah, kecuali Cinta kepada اللّـﮧ & mencintai sesuatu itu hanya karena اللّـﮧ..Inilah ikatan keimanan yang sangat kuat..dan inilah perkara yang menyempurnakan keimanan seorang mu'min

Rosululloh ~shollallohu 'alaihi wa sallam~ bersabda :

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَ أَبْغَضَ لِلَّهِ وَ أَعْطَى لِلَّهِ وَ مَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيْمَانَ

Barangsiapa yang mencintai karena اللّـﮧ, membenci karena اللّـﮧ, memberi karena اللّـﮧ  dan mencegah karena اللّـﮧ  sungguh ia telah menyempurnakan imannya. [HR Abu Dawud ~rohimahulloh~ dalam sunannya no. 4681 dari Abu Umamah ~rodhiyallohu 'anhu~, dihasankan oleh Syaikh Salim Ied al-Hilali ~Hafizhohulloh~ dalam Al Hubbu wal Bughdhu fillah]

Saudaraku seislam yang saya hormati, cinta kepada اللّـﮧ itu bukanlah sekedar kata-kata namun ia memiliki tanda-tandanya. Di antaranya :

Pertama, orang yang mencintai اللّـﮧ akan mengutamakan apa-apa yang dicintai اللّـﮧ meskipun hal itu menyelisihi atau bertentangan dengan hawa nafsunya. Ia pun akan membenci apa-apa yang dibenci اللّـﮧ meskipun hawa nafsunya cenderung kepada perkara itu.

Kedua, orang yang mencintai اللّـﮧ akan berloyalitas kepada orang-orang yang berloyalitas kepada اللّـﮧ dan Rosul-Nya. Ia pun akan memusuhi orang-orang yang memusuhi اللّـﮧ dan Rosul-Nya.

Ketiga, orang yang mencintai اللّـﮧ akan mengikuti Rosululloh ~shollallohu 'alaihi wa sallam~, menapaki jejaknya dan menerima petunjuk yang disampaikannya.

Saudaraku, semoga kita mndptkan cinta sejati ini. Dan semoga cinta itu semakin menguat sehingga kita termasuk apa yang disebutkan اللّـﮧ dalam firman-Nya :

"..Dan orang-orang beriman itu amat sangat cintanya kepada اللّـﮧ.." [QS. Al Baqoroh ayat 165]

Ibnu mukhtar

Harga diri

Harga diri anda hanya terletak pada hati

Bila hati anda suci dengan iman dan taqwa, maka anda berharga walau dihina oleh orang.
Namun bila hati anda penuh dengan noda maka anda adalah manusia hina walau anda disanjung orang

Allah Ta'ala berfirman:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
Sejatinya orang paling mulia dr kalian di sisi Allah adalah orang paling bertaqwa diantara kalian (Surat Al Hujurot ayat 13)

Nabi Shallallahu alihi wasallam bersabda :
ان الله لا ينظر الى اجسادكم ولا الى صوركم ولكن ينظر الى قلوبكم
Sejatinya Allah tidaklah melihat tubuh kalian, tidak pula kepada penampilan kalian, namun Allah melihat hati-hati kalian (Riwayat Muslim)

Sudahkah hati anda setampan paras dan penampilan anda?....
Sudahkan hati anda secantik raut wajah anda?...
Sudahkan jiwa anda seharum aroma parfum anda?...

Ustadz Arifin Badri Lc

Selasa, 10 Juni 2014

Perjalanan terjauh dan tersulit

Untuk anak lelakiku.....

Perjalanan terjauh dan terberat...

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid,
sebab banyak orang kaya raya tidak sanggup mengerjakannya.
Jangankan sehari lima waktu, bahkan banyak pula yang seminggu sekali pun terlupa, tidak jarang pula seumur hidup tidak pernah singgah kesana.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid,
karena orang pintar dan pandai pun sering tidak mampu menemukannya, walaupun mereka mampu mencari ilmu hingga ke universitas Eropa juga Amerika, dapat melangkahkan kaki ke Jepang, Australia dan Korea dengan semangat yang membara, namun ke masjid tetap saja perjalanan yang tidak mampu mereka tempuh walau telah bertitel S3.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid,
karena para pemuda kuat dan bertubuh sehat yang mampu menaklukkan puncak gunung Bromo dan Merapi pun sering mengeluh ketika diajak ke masjid, alasan mereka pun beragam, ada yang berkata sebentar lagi, ada yang berucap tidak nyaman dicap alim.

Perjalanan terjauh dan terberat adalah perjalanan ke masjid,

maka berbahagialah dirimu hai anakku...

bila dari kecil engkau telah terbiasa melangkahkan kaki di masjid karena bagi kami, sejauh manapun engkau melangkahkan kaki,tidak ada perjalanan yang paling kami banggakan selain perjalananmu ke masjid.
Biar kuberi tahu rahasia kepadamu,sejatinya perjalananmu ke masjid adalah perjalanan untuk menjumpai Rabb-mu dan itulah perjalanan yang diajarkan oleh Nabi, serta perjalanan yang akan membedakanmu dengan orang-orang yang lupa akan Rabb-nya.

Perjalanan terjauh dan terberat itu adalah perjalanan ke masjid,

maka lakukanlah  walau engkau harus merangkak dalam gelap subuh demi mengenal Rabb-mu ....

Allaahu Akbar

Tangisan berbuah tangisan

TANGISAN BERBUAH TANGISAN

Air matanya tertumpah, mengalir membentuk aliran sungai di pipi. Nasihat demi nasihat telah ia usahakan, namun ibunya tetap menolak. Bahkan bujukan yang terakhir lebih menyakitkan. Ibunya tak sekedar menolak, bahkan Rasulullah dihina dan diperolok-olok. Sungguh muslim mana yang rela Rasulullah, idola dan panutannya diolok-olok. Namun siapa yang tak berderai air matanya, ternyata orang yang memperolok-olok adalah ibu kandungnya sendiri, seseorang yang berkorban untuk dirinya sejak masih di rahim hingga detik ini.

Kesedihan Abu Hirairah sangatlah mendalam. Terlalu dalam. Tak ada yang dapat menghapusnya kecuali Rabbul Izzah kemudian mendatangi Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, manusia paling bersahaja. Abu Hurairah melangkah menemui Rasulullah.

"Rasulullah, aku selalu membujuk ibuku agar berkenan masuk Islam, namun beliau selalu menolak," kata Abu Hurairah mencurahkan hatinya kepada Rasulullah. Abu Hurairah benar-benar tak kuasa menahan kesedihan sendirian. Ingin secepatnya meluapkan dan mengungkapkan rasa kepada orang yang tepat. Itulah Rasulullah. Dan memang, Rasulullah adalah orang yang tepat. Rasulullah tak merasa berat menerima curhatan Abu Hurairah. Beliau memperhatikan semua luapan rasa Abu Hurairah dengan tatapan bijak. Subhanallah, sungguh mengesankan! Yar Rahman, pertemukanlah kami dengannya di Firdausil A'la.

"Suatu hari, aku mengajak beliau untuk masuk Islam. Namun, justru ibuku mengucapkan kata-kata tentang dirimu yang tidak ku sukai," sambung Abu Hurairah.

"Kumohon, duhai Rasul, berdoalah kepada Allah agar Dia berkenan membuka pintu hidayah untuk ibuku, bunda Abu Hurairah," kata penutup dari Abu Hurairah yang masih ditemani isak tangis.

Rasulullah pun berdoa, "Allahumma, berikanlah hidayah untuk ibu Abu Hurairah."

Seketika, berangsur-angsur kesedihan yang sempat menghempas qalbu Abu Hurairah sirna, terkalahkan oleh kebahagiaan yang dibawa doa Rasulullah. Kini Abu Hurairah menatap rumahnya dengan qalbu yang kembali tegar. Beliau masih bertekad untuk membujuk ibunya. Seolah Abu Hurairah berkata, "Kan ku goreskan ikhtiar dan usaha dalam lembar kehidupanku. Dan ku serahkan penghapusnya kepada Allah. Jika memang baik, Allah tidak akan menghapusnya. Jika buruk, Allah akan menghapusnya dan menggantinya dengan yang lebih baik. Itulah yang telah Allah goreskan di Lauh Mahfudh."

Begitulah, Akhi. Ikhtiar dan doa bagaikan dua bukit biru samar-samar yang memeluk manusia. Dua bukit itu membentuk konspirasi rahasia kesuksesan manusia di dunia dan akhirat. Dan rahasia konspirasi dua bukit ini telah  Rasulullah shallallahu alaihi wasallam ajarkan dalam sabdanya,

"Gelorakanlah semangatmu dalam hal-hal yang bermanfaat bagimu. Pintalah pertolongan kepada Allah. Dan jangan pernah merasa lemah!"

Akhi, ikhtiar tanpa doa hanyalah sebuah kemustahilan. Doa tanpa usaha juga hanya sebuah kedustaan. Dan menghimpun keduanya adalah langkah awal menuju kesuksesan. Tanyakan saja kepada Abu Hirairah akan kebenarannya.

Sesampainya di depan rumah, Abu Hurairah mendapati pintu rumahnya tertutup. Ia berusaha membuka, ternyata terkunci. Ada apa ini?

"Abu Hurairah, jangan kau pergi! Tetaplah di tempatmu!" teriak ibunya dari dalam rumah. Ia juga mendengar gemercik air dari sana. Abu Hurairah terheran-heran. Ada apa ini?

Tiba-tiba ibunya keluar,

"Asy-hadu alla ilaha illallah. Wa asyhadu anna muhammadar rasulullah,"

Syahdan, tanggul air matanya kembali tak kuasa membendung untaian kalimah thayyibah tersebut. Hatinya gegap gempita, bahagia luar biasa. Tak bisa ia melukiskannya kecuali dengan air mata.

Abu Hurairah segera mengayunkan langkah cepat. Berlari dan mencari Rasulullah. Ia terus berlari dengan tetesan-tetesan air mata titisan doa Nabi.

"Rasulullah!" tak sabar Abu Hurairah mengungkapkan rasanya.

"Berbahagialah, Rasulullah! Sungguh, Allah telah mengabulkan doamu! Allah telah membukakan pintu hidayah untuk ibuku."

Manusia paling bersahaja pun bertahmid dan memuji Allah subhanahu wa taala.

Memang, terkadang tangisan berbuah tangisan. Dari sini kita belajar bahwa setiap muslim, seburuk apapun keadaanya bila senatuasa berdoa dan ber ikhtiar alloh akan memberikan jalan keluar dari tempat yang tidak disangka2

Allohuakbar

Sabtu, 07 Juni 2014

Mendulang Pahala di Bulan Berkah ( Bag.8 )

Mendulang Pahala di Bulan Berkah

[Bagian kedelapan]
------

Kesebelas, melakukan umroh di bulan Romadhon

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ - رضى الله عنهما... قَالَ فَإِنَّ عُمْرَةً فِى رَمَضَانَ تَقْضِى حَجَّةً مَعِى

Dari Ibnu Abbas  ~rodhiyallohu ‘anhuma~ Nabi ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ telah bersabda : "..Umroh pada bulan Romadhon pahalanya sama dengan haji bersamaku"  [HSR. Bukhori ~rohimahulloh~ no. 1863]

Kedua belas, menunaikan zakat fithri dari makanan pokoknya. Begitu pula dengan zakat maal ( harta)nya. Jika ia telah mencapai nishob dan haulnya maka wajib pula bagi dirinya untuk mengeluarkan zakat maalnya.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ مَنْ أَدَّاهَا قَبْلَ الصَّلاَةِ فَهِىَ زَكَاةٌ مَقْبُولَةٌ وَمَنْ أَدَّاهَا بَعْدَ الصَّلاَةِ فَهِىَ صَدَقَةٌ مِنَ الصَّدَقَاتِ.

Dan dari Ibnu Abbas rodhiyallohu ‘anhuma,ia berkata : Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam mewajibkan zakat fithri itu sebagai pembersih bagi orang yang sedang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan omongan kotor, dan sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Karena itu barangsiapa yang mengeluarkan zakat fithri sebelum sholat ied maka ia adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang mengeluarkannya sesudah sholat ied, maka zakat tersebut adalah salah satu shodaqoh biasa” [HR Abu Dawud dalam sunannya no. 1611 dihasankan Syaikh Al Albani rohimahulloh dalam Shohiihut Targhiib wat Tarhiib no. 1085.] 

Ketiga belas, tetap menjaga amalan-amalan yang telah diwajibkan seperti bertauhid dan menjauhi syirik dan orang-orangnya, sholat lima waktu, menutup aurat dengan hijab syar’ie untuk muslimah, berbakti kepada ke dua orang tua dan kewajiban syari'at lainnya.

Demikian dapat disampaikan. Meski terlalu ringkas, semoga pembahasan ini tetap bermanfaat bagi kita semua,

∕̴Ɩαмîîη Ƴαα ƦõввαƖ '∕̴ƖαƖαмîîη

و صلّى اللّـﮧ و سلّم على نـــبيّنا محمّد

  ~o0o~

Mendulang Pahala di Bulan Berkah ( Bag.7 )

Mendulang Pahala di Bulan Berkah

[Bagian ketujuh]
------

Kesembilan, berburu lailatul qodar

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ، وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »

Dari Abu Huroiroh ~rodhiyallohu ‘anhu~ dari Nabi ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~, beliau bersabda : “Barangsiapa yang sholat di malam lailatul qodar karena iman dan mengharapkan pahala  niscaya dosa-dosanya yang dimasa lalu akan diampuni. Dan barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharapkan pahala  niscaya dosa-dosanya yang dimasa lalu akan diampuni. [HSR. Al Bukhori dalam shohihnya no. 1901]

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحَرُّوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Dari Aisyah ~rodhiyallohu ‘anha~ dia berkata, Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ telah bersabda : "Carilah oleh kalian lailatul qodar pada malam ganjil disepuluh hari terakhir di bulan Romadhon." HSR. Al Bukhori no. 2017 dan Muslim no. 2833
 
Kesepuluh, ber-i'tikaf

عَنْ عَائِشَةَ - رضى الله عنها - زَوْجِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - أَنَّ النَّبِىَّ - صلى الله عليه وسلم - كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Dari 'Aisyah ~rodhiyallohu ‘anhu~, Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ senantiasa ber-I'tikaf pada sepuluh terakhir di bulan Romadhon hingga beliau meninggal. Setelah beliau ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ wafat, istri-istri beliau meneruskan kebiasaan I'tikaaf tersebut. [HSR. Bukhori  no. 2026 dan Muslim no. 2841]

---
Bersambung.. :)

Mendulang Pahala di Bulan Berkah ( Bag.6 )

Mendulang Pahala di Bulan Berkah

[Bagian keenam]
------

Ketujuh, banyak berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - أَوْ عَنْ أَبِى سَعِيدٍ هُوَ شَكَّ يَعْنِى الأَعْمَشَ - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ لِلَّهِ عُتَقَاءَ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لِكُلِّ عَبْدٍ مِنْهُمْ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ »

Dari Abu Huroiroh atau dari Abu Sa’id al-Khudri ~rodhiyallohu ‘anhuma~  al-A’masy ragu, ia berkata : Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ bersabda : “Sesungguhnya اللّـﮧ  memiliki orang-orang yang dimerdekakan dari api Neraka setiap hari dan malamnya –yakni di bulan Romadhon-. Dan sesungguhnya  setiap hamba dari kalangan mereka   ( yakni orang-orang beriman ) memiliki doa yang mustajab. [HR. Ahmad dalam musnadnya  no. 7443 dishohihkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arna’uth rohimahulloh dan Syaikh Al Albani rohimahulloh dalam Shohihul Jaami’ no. 2169]

Kedelapan, menjauhkan diri dari segala maksiat dan amalan yang tidak bermanfaat.

Saudaraku, bersungguh-sungguhlah dalam berpuasa dan memanfaatkan waktu dan kesempatan yang Alloh berikan kepada kita. Isilah ia dengan berbagai ketaatan dan  kegiatan yang berfaedah. Jauhilah segala maksiat dan amalan yang tidak bermanfaat. Sungguh betapa banyak orang yang berpuasa yang ia dapatkan hanyalah rasa lapar dan haus saja.

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : رُبَّ صَائِمٍ حَظّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَ اْلعَطَشُ

Dari ِAbdulloh bin Umar ~rodhiyallohu ‘anhuma~ ia berkata, Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ bersabda : “Betapa banyak orang yang berpuasa yang ia dapatkan dari puasanya hanyalah lapar dan haus saja.” [HR. Thobroni dalam Mu’jamul Kabir  dengan sanad la ba’sa bih ( tidak mengapa ). Syaikh Al Albani ~rohimahulloh~ menilainya shohih lighoirihi dalam Shohihut Targhib wat Tarhib no. 1084]

---
Bersambung.. :)