Tolong dicatet dan di ingat ingat yaah.
SEBUAH PERMINTAAN KHUSUS SAYA PADA SAHABAT-SAHABAT FB atau SOSMED yang lainnya
''Diustadzkan'' DAN ''aq tidak tahu''
MUFTI FACEBOOK
Biasanya jika seorang telah 'diustadzkan' di dunia maya ini, seseorang akan ditanya tentang permasalahan agama;
"Ustadz..apa hukumnya bla..bla.."
"ustadz..kalau misalnya begini, bolehkah kita begitu..?
"Lantas yang diustadzkan ini tidak mau jika kredibilitas keilmuannya diragukan;
"saya ini mahasiswa timteng, harus bisa jawab.." atau "saya ini murid syeikh fulan/ustadz fulan, malu kalau tidak bisa jawab.."
gumam sebagian orang yang diustadzkan.
Lalu dengan tergesa-gesa ia pun menjawab setiap pertanyaan dari;
1) permasalahan yang belum dikuasainya,
2) terlebih lagi masalah kontemporer,
3) bahasan yang pelik dan rumit,
4) dan masalah yang dapat membuka pintu keburukan.
Baik yang dikirim via inbox atau dikomentar-komentar statusnya tanpa muroja'ah atau bertanya kepada orang yang lebih 'alim darinya agar jawaban yang diberikan benar-benar sesuai dengan al-Qur'an dan as-sunnah dengan pemahaman sahabat rodhiallahu'anhu.
Dan akhirnya si penanya pun mengamalkan apa yang telah 'difatwakan' mufti facebook tsb, atau bahkan memberitahukan persoalan tsb kepada orang lain.
Jika ternyata jawaban yang diberikan salah, maka yang menanggung dosanya adalah 'mufti facebook' yang tidak hati-hati dalam memberikan jawaban.
Allahummahgfirlanaa..
Rosulullah shallallahu'alahi wasallam bersabda :
من أفتي بغير علم كان إثمه على من أفتاه
"Barang siapa yang berfatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung oleh orang yang memberinya fatwa." (HR. Abu Daud : 3657)
Sahabatku..
untuk apa malu dengan suatu yang semu (pujian manusia), bukankan para sahabat rodhiallahu'anhum adalah sebaik-baik generasi yang paling memahami agama ini, tapi lihatlah kewaro'an mereka, sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Barro' :
"Sungguh aku telah melihat 300 orang sahabat yang ikut perang badr, tidak ada satupun diantara mereka (apabila ditanya) melainkan mereka lebih menyukai untuk mencukupkan sahabat yang lain dalam berfatwa.
"Ibnu Abi Laila berkata :
"Aku mengetahui 120 sahabat Nabi shallallahu'alai wasallam dari kalangan anshor, ketika salah satu diantara mereka ditanya tentang satu masalah, maka permasalahan ini mereka lontarkan kepada (sahabat) yang ini, lalu (sahabat) yang ini melemparkan soal tadi kepada (sahabat) yang ini, sampai-sampai pertanyaan itu kembali lagi kepada (sahabat) yang pertama, tidak ada satupun diatara mereka yang membicarakan hadits atau ditanya tentang sesuatu melainkan ingin saudaranya yang mencukupkan (jawaban dari pertanyaan itu).
"Sebelum saya akhiri, ada baiknya kita camkan baik-baik pernyataan Ibnu Mas'ud ini :
من أفتى الناس عن كل ما يسألونه فهو مجنون
"Barang siapa yang berfatwa kepada manusia setiap yang mereka tanyakan maka ia adalah orang gila."
Imam Malik pernah ditanya 48 masalah, dan sebanyak 32 masalah beliau berkata :
"saya tidak tahu."
Syeikhuna, syeikh 'Abdul Muhsin Al-'Abbad hafidzohullah, muhaddits negri hijaz abad ini di dalam majlis tanya jawabnya tidak jarang kami mendengar "laa adri" (saya tidak tahu).
Lantas selevel kita ini mengapa enggan untuk mengucapkan: "SAYA TIDAK TAHU.."???
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita bila pernah memberikan fatwa yang salah.
Wallahuta'ala A'la wa A'lam..
IBNU HILMY
Baarokallahufiykum....
Sekali lg,
JANGAN PANGGIL SAYA ''USTAD'',
karna saya msh belajar,sama seperti kalian semua.
Mhn dimaafkan apabila ada kata2 saya yg menyinggung,...
SAHABATMU FIRMANSYAH FAWWAZ
Tidak ada komentar:
Posting Komentar