Hijriah

Sabtu, 07 Juni 2014

Mendulang Pahala di Bulan Berkah ( Bag.6 )

Mendulang Pahala di Bulan Berkah

[Bagian keenam]
------

Ketujuh, banyak berdoa untuk kebaikan dunia dan akhirat.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - أَوْ عَنْ أَبِى سَعِيدٍ هُوَ شَكَّ يَعْنِى الأَعْمَشَ - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « إِنَّ لِلَّهِ عُتَقَاءَ فِى كُلِّ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ لِكُلِّ عَبْدٍ مِنْهُمْ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ »

Dari Abu Huroiroh atau dari Abu Sa’id al-Khudri ~rodhiyallohu ‘anhuma~  al-A’masy ragu, ia berkata : Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ bersabda : “Sesungguhnya اللّـﮧ  memiliki orang-orang yang dimerdekakan dari api Neraka setiap hari dan malamnya –yakni di bulan Romadhon-. Dan sesungguhnya  setiap hamba dari kalangan mereka   ( yakni orang-orang beriman ) memiliki doa yang mustajab. [HR. Ahmad dalam musnadnya  no. 7443 dishohihkan oleh Syaikh Syu’aib al-Arna’uth rohimahulloh dan Syaikh Al Albani rohimahulloh dalam Shohihul Jaami’ no. 2169]

Kedelapan, menjauhkan diri dari segala maksiat dan amalan yang tidak bermanfaat.

Saudaraku, bersungguh-sungguhlah dalam berpuasa dan memanfaatkan waktu dan kesempatan yang Alloh berikan kepada kita. Isilah ia dengan berbagai ketaatan dan  kegiatan yang berfaedah. Jauhilah segala maksiat dan amalan yang tidak bermanfaat. Sungguh betapa banyak orang yang berpuasa yang ia dapatkan hanyalah rasa lapar dan haus saja.

عن ابن عمر رضي الله عنهما قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه و سلم : رُبَّ صَائِمٍ حَظّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَ اْلعَطَشُ

Dari ِAbdulloh bin Umar ~rodhiyallohu ‘anhuma~ ia berkata, Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ bersabda : “Betapa banyak orang yang berpuasa yang ia dapatkan dari puasanya hanyalah lapar dan haus saja.” [HR. Thobroni dalam Mu’jamul Kabir  dengan sanad la ba’sa bih ( tidak mengapa ). Syaikh Al Albani ~rohimahulloh~ menilainya shohih lighoirihi dalam Shohihut Targhib wat Tarhib no. 1084]

---
Bersambung.. :)

Mendulang Pahala di Bulan Berkah ( Bag.5 )

Mendulang Pahala di Bulan Berkah

[Bagian kelima]
------

Keenam, banyak bershodaqoh. Di antaranya adalah dengan memberi makan berbuka bagi orang yang sedang berpuasa.

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِىِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا

Dari Zaid bin Kholid al-Juhaniy ~rodhiyallohu ‘anhu~, ia berkata : Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ bersabda : “Barangsiapa yang memberikan makan berbuka untuk orang yang berpuasa maka baginya ganjaran semisal orang yang berpuasa tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun.” [HR. Tirmidzi dalam sunannya no. 812 dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani rohimahulloh dalam Shohiihut Targhiib wat Tarhiib no. 1078]

---
Bersambung.. :)

Mendulang Pahala di Bulan Berkah ( Bag.4 )

Mendulang Pahala di Bulan Berkah

[Bagian keempat]
------
Keempat, membaca Al-Qur'an.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لاَ أَقُولُ الم َرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلاَمٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ »

Dari Abdulloh bin Mas'ud ~rodhiyallohu ‘anhu~, dia berkata, Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~  bersabda : "Barangsiapa membaca satu huruf Al Qur'an maka akan memperoleh satu kebaikan. Setiap satu kebaikan dibalas dengan sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan, Alif Laam Miim itu satu huruf. Tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan mim satu huruf."  [HR. Tirmidzi dalam sunannya no. 3158, di shohihkan oleh Syaikh al-Albani rohimahulloh dalam Misykatul Mashobih no. 2137] 

Kelima, bersegera berbuka ketika waktunya tiba.

Saudaraku, ketika waktu berbuka tiba maka segeralah untuk berbuka. Jangan menunda-nunda seperti kalangan ahlul kitab yahudi dan nashroni. Selain mengikuti Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam dan sunnahnya, bersegera dalam berbuka mendatangkan kejayaan bagi agama Islam.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ يَزَالُ الدِّينُ ظَاهِرًا مَا عَجَّلَ النَّاسُ الْفِطْرَ لأَنَّ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى يُؤَخِّرُونَ ».

Dari Abu Huroiroh ~rodhiyallohu ‘anhu~ dari Nabi ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ beliau bersabda : “Agama ini akan senantiasa jaya selama manusia (kaum muslimin) menyegerakan berbuka. Karena Yahudi dan Nashroni mengakhirkannya”. [HR. Abu Dawud dalam sunannya no. 2355 dan dinilai Shohih oleh Syaikh al-Albani rohimahulloh dalam Misykatul Mashobih no. 1995]

---
Bersambung.. :)

Mendulang Pahala di Bulan Berkah ( Bag. 3 )

Mendulang Pahala di Bulan Berkah

[Bagian ketiga]
------

Dan jangan diremehkan pula untuk bersahur sebelumnya. Mengenai sunnahnya bersahur, Nabi kita bersabda :

عَنْ أَنَسٍ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « تَسَحَّرُوا فَإِنَّ فِى السُّحُورِ بَرَكَةً ».

Dari Anas ~rodhiyallohu ‘anhu~, dia berkata, Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~  bersabda : "Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya di dalam makan sahur itu terdapat keberkahan." [HSR. Bukhori no. 1923 dan Muslim no. 2603] 

Ketiga, qiyamu Romadhon.

Qiyamu Romadhon atau biasa disebut sholat tarawih hukumnya adalah mustahab/sunnah dan bukan wajib. Meski demikian, melakukannya sesuai tuntunan Rosululloh ~shollallohu 'alaihi wa sallam~ dengan berjama'ah memiliki keutamaan tersendiri. Perhatikanlah sabda Nabi kita berikut :

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ رَسُوْلُ الله ِ صَلّى الله ُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ :...إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ قِيَامَ لَيْلَةٍ

Dari Abu Dzar ~rodhiyallohu ‘anhu~, Rosululloh ~shollalohu ‘alaihi wa sallam~ bersabda : “Sungguh siapa saja yang melakukan sholat bersama Imam hingga selesai, maka اللّـﮧ  mencatat baginya pahala sholat semalam suntuk.” [HR. An Nasaa-ie dalam sunannyanya no. 1616 dengan diringkas. Dishohihkan oleh Syaikh Al Albani rohimahulloh dalam Shohiihul Jaami’  no. 2417 ]

---
Bersambung.. :)

Mendulang Pahala di Bulan Berkah ( Bag.2 )

Mendulang Pahala di Bulan Berkah

[Bagian kedua]
------

Kedua, berpuasa disertai niyat di malamnya atau berniyat sebelum memasuki fajar shodiq (waktu shubuh)

Saudaraku, berpuasa di bulan Romadhon, wajib hukumnya. Ia termasuk salah satu rukun Islam yang lima. Siapa yang meninggalkannya dengan sengaja tanpa alasan yang dibenarkan syari'at maka ia telah melakukan salah satu dosa besar.

Bagi yang akan berpuasa, maka jangan lalaikan untuk berniat di malamnya atau berniyat sebelum fajar shodiq (waktu shubuh) tiba.

عَنْ حَفْصَةَ زَوْجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلاَ صِيَامَ لَهُ ».

Dari Hafshoh ~rodhiyallohu ‘anha –salah seorang istri Nabi~ bahwasanya Rosululloh ~sholallohu 'alaihi wa sallam~ bersabda : “Barangsiapa yang tidak mengumpulkan keinginan untuk berpuasa (niyat) sebelum terbit fajar maka tidak ada puasa baginya”. [HR. Abu Dawud dalam sunannya no. 2456 dinilai Shohih oleh Syaikh al-Albani rohimahulloh dalam Shohih wa dhoif sunan Abi Dawud no. 2454  dan Shohiihul Jaami’ no. 6538]

Niyat itu letaknya di dalam hati. Melafazhkan niyat dalam ibadah semisal sholat, puasa dan lainnya dengan lisan termasuk amalan yang tidak ada contohnya dari Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~. Maka nyatalah bahwa ucapan, “Nawaitu shouma ghoddin…dst”  yang banyak orang ucapkan setelah sholat tarawih itu sama sekali tidak ada riwayatnya dari Rosululloh ~shollallohu ‘alaihi wa sallam~ dan para sahabatnya. Jadi cukupilah dengan apa-apa yang jelas sumbernya saja agar kita beruntung.

---
Bersambung.. :)

Mendulang Pahala di Bulan Berkah ( Bag.1 )

Mendulang Pahala di Bulan Berkah

Saudaraku seislam yang saya muliakan, bulan Romadhon yang penuh berkah dan sarat akan keutamaan dan ganjaran sebentar lagi akan mendatangi kita. Pada saat itu, pintu-pintu Surga dibuka dan pintu-pintu Neraka ditutup, sedangkan para syaithon pun dibelenggu. Siapa di antara kita yang ingin memperoleh kebaikan dan ganjaran berlimpah di dalamnya, maka sudah semestinya untuk  memperbekali diri dengan pengetahuan yang benar akan berbagai amalan yang memang ada dasar dan tuntunannya dari Rosululloh ~shollallohu 'alaihi wa sallam~ , kemudian semua itu kita lakukan dengan ikhlas, hanya karena اللّـﮧ semata yang kita tuju.

Saudaraku seislam yang saya cintai, berikut berbagai amalan yang seharusnya dilakukan seorang muslim agar bulan Romadhon menjadi ladang pahala baginya.

Pertama, mengawali dan mengakhiri bulan Romadhon bersama Jamaa'ah, yakni berdasar ru'yatul hilal yang ditetapkan penguasa kaum muslimin di mana ia tinggal atau berada.

Dari Abu Huroiroh ~rodhiyallohu 'anhu~ bahwasanya Nabi ~shollallohu 'alaihi wa sallam~ bersabda :

"الصوم يوم تصومون، والفطر يوم تفطرون، والأضحى يوم تضحون

'Puasa itu adalah hari yang kalian berpuasa, Iedul Fithri itu adalah hari yang kalian berbuka, dan Iedul Adh-ha adalah hari yang kalian menyembelih." [HR. Tirmidzi, beliau berkata : "sebagian ahli ilmu menjelaskan  maksud hadits ini adalah :

الصوم والفطر مع الجماعة وعِظَم الناس

Puasa dan ber-ied itu bersama Jamaa'ah (penguasa) dan mayoritas kaum muslimin]

Imam Ahmad bin Hanbal ~rohimahulloh~ berkata:

يصوم مع الإمام وجماعة المسلمين في الصحو والغيم،

“Seseorang itu berpuasa bersama penguasa dan jamaah umat Islam, baik ketika cuaca cerah ataupun mendung.”

Beliau juga berkata:

يد الله على الجماعة

“Tangan اللّـﮧ bersama Al-Jama’ah.”
---
Bersambung.. :)

Selasa, 03 Juni 2014

Sebuah Renungan

Bila "Shubuh" utuh,
Pagi pun tumbuh,
Hati terasa teduh,
Pribadi tdk angkuh,
Keluarga tdk keruh,
Maka damai berlabuh..

Bila "Dhuhur" teratur,
Diri jadi jujur,
Hati tdk kufur,
Jiwa selalu bersyukur,
Amal ibadah tdk udzur,
Keluarga akur,
Maka Pribadi jadi makmur..

Bila "Ashar" kelar,
Jiwa jadi sabar,
Raga jadi tegar,
Senyum pun menyebar,
InsyaAllah rezeki lancar...

Bila "Maghrib" tertib,
Ngaji menjadi wajib,
Wirid jadi karib,
Jauh dari aib,
InsyaAllah syafaat tdk raib...

Bila "Isya" terjaga,
Malam bercahaya,
Hati damai sejahtera,
InsyaAllah hidup pun bahagia.

IKHLAS ITU
menentukan diterima atau tidak diterimanya aktivitas kita sebagai ibadah,
Karenanya pastikan ia senantiasa menyertai setiap aktivitas kita

Ikhlas itu….
Ketika nasehat, kritik dan bahkan fitnah, tidak mengendorkan amalmu dan tidak membuat semangatmu punah.
Ikhlas itu…
Ketika hasil tak sebanding usaha dan harapan, tak membuatmu menyesali amal dan tenggelam dalam kesedihan.
Ikhlas itu…
Ketika amal tidak bersambut apresiasi sebanding, tak membuatmu urung bertanding.
Ikhlas itu…
Ketika niat baik disambut berbagai prasangka, kamu tetap berjalan tanpa berpaling muka.
Ikhlas itu…
Ketika sepi dan ramai, sedikit atau banyak, menang atau kalah, kau tetap pada jalan lurus dan terus melangkah.
Ikhlas itu…
ketika kau lebih mempertanyakan apa amalmu dibanding apa posisimu, apa peranmu dibanding apa kedudukanmu, apa tugasmu dibanding apa jabatanmu.
Ikhlas itu..
ketika ketersinggungan pribadi tak membuatmu keluar dari barisan dan merusak tatanan.
Ikhlas itu…
ketika posisimu di atas, tak membuatmu jumawa, ketika posisimu di bawah tak membuatmu enggan bekerja.
Ikhlas itu…
ketika khilaf mendorongmu minta maaf, ketika salah mendorongmu berbenah, ketika ketinggalan mendorongmu mempercepat kecepatan.
Ikhlas itu…
ketika kebodohan orang lain terhadapmu, tidak kau balas dengan kebodohanmu terhadapnya, ketika kedzalimannya terhadapmu, tidak kau balas dengan kedzalimanmu terhadapnya.
Ikhlas itu…
ketika kau bisa menghadapi wajah marah dengan senyum ramah, kau hadapi kata kasar dengan
jiwa besar, ketika kau hadapi dusta dengan menjelaskan fakta.
Ikhlas itu….
Gampang diucapkan, sulit diterapkan…..
namun tidak mustahil diusahakan….
Ikhlas itu...
Seperti surat Al Ikhlas..
Tak ada kata ikhlas di dalamnya...

Semoga Bermanfaat